Opini Publik

Mengapresiasi Hari Lahir Pancasila

MENGENANG 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, walaupun pemaknaannya penuh liku dan luka sejarah, akhirnya dia menjadi sakti hingga kini.

Mengapresiasi Hari Lahir Pancasila
istimewa
Garuda Pancasila 

OLEH: SARI OKTARINA MPD
Kepala SMAN 9 Banjarmasin
(Ketua MGMP Sejarah SMA Prov Kalsel)

MENGENANG 1 Juni sebagai hari lahirnya Pancasila, walaupun pemaknaannya penuh liku dan luka sejarah, akhirnya dia menjadi sakti hingga kini. Terlepas dari muatan kepentingan dan politis khususnya dari yang pro dan kontra mengenai kepastian dan jasa pencetusnya, Presiden Joko Widodo mengakhiri kontroversi itu dengan menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 sebagai dasar pijakan historis dan yuridis yang jelas dan pasti. Untuk itu seluruh rakyat Indonesia diminta merayakan peringatan Harlah Pancasila, yang kini menjadi hari libur nasional, dengan penuh khidmat.

Tahun ini merupakan peringatan Harlah Pancasila yang ke 73, dihitung sejak 1 Juni 1945. Saat Ir Soekarno menyampaikan pidato di hadapan BPUPK dan memperkenalkan lima sila dengan nama Pancasila. Dari hal tersebut kemudian diformalkan dalam sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945.

Pancasila Sebelum Era Reformasi

Sebagai tonggak sejarah, perlu klarifikasi bagaimana Pancasila khususnya pada era Orde Baru, atau era sebelum reformasi. Sebelum era reformasi dikenal sebagai era Orde Baru. Dalam kurun waktu lebih kurang 32 tahun lama masa pemerintahan Orde Baru, sikap pemerintah terhadap Pancasila bisa disebut ambigu.

Hal ini tercermin, misalnya pada tahun 1970, pemerintahan Orde Baru melalui Kopkamtib melarang peringatan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Walaupun demikian, dalam perkembangan selanjutnya pemerintah Orde Baru justru mengembangkan Pancasila dengan memperkenalkan Eka Prasetya Panca Karsa, yang menjadi materi dalam penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang sifatnya wajib bagi semua instansi, baik pemerintah maupun swasta.

Sejak masa pemerintahan Orde Baru, sejarah tentang rumusan awal Pancasila didasarkan pada penelusuran sejarah oleh Nugroho Notosusanto melalui buku Naskah Proklamasi jang Otentik dan Rumusan Pancasila jang Otentik (Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan-Keamanan, 1971).

Dalam hubungan ini, Nugroho Notosusanto selaku Mendikbud menyatakan ada empat rumusan Pancasila, yaitu rumusan yang disampaikan oleh Mohammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945, rumusan yang disampaikan oleh Ir Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945, rumusan yang diajukan oleh Panitia 9 yang diajukan pada tanggal 22 Juni 1945, dan rumusan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Nugroho meyakini bahwa rumusan Pancasila adalah rumusan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Masalah Substansi

Saat ini, Pancasila dinyatakan sebagai ideologi terbuka, dan senantiasa dikaitkan dengan sistem pemerintahan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam kerangka ini, Pancasila yang merupakan dasar negara Indonesia, dituangkan dalam lima dasar yang dipadukan dalam satu rangkaian kesatuan, satu totalitas, merupakan satu kebulatan yang tunggal dan mandiri. Tiap sila mengandung dan mencerminkan makna keempat sila yang lainnya. Tiap sila tidak terlepas dari kaitannya dengan sila yang lain.

Halaman
12
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help