Opini Publik

Harapan Pak Tua Pada Kita

Suatu kali datang anak kecil menertawakan. Ia menyebut pekerjaan Pak Tua itu sia-sia, karena pantai begitu luas

Harapan Pak Tua Pada Kita
Dkumen BPOST GROUP
dr Pribakti

OLEH: PRIBAKTI B, Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

SYAHDAN, tersebut sebuah kisah Pak Tua yang rumahnya di tepi pantai. Tiap pagi ia memunguti hewan kecil yang terdampar oleh deburan ombak malam. Berbagai hewan kecil itu akan mati jika tidak bisa kembali ke lautan. Karenanya, tiap pagi Pak Tua memunguti ikan-ikan kecil serta ubur-ubur itu untuk dilemparkan kembali ke laut.

Suatu kali datang anak kecil menertawakan. Ia menyebut pekerjaan Pak Tua itu sia-sia, karena pantai begitu luas, lebih banyak binatang laut yang tidak bisa diselamatkan. Pak Tua mengatakan kalaupun dirinya tak bisa menyelamatkan semua, setidaknya ia berkewajiban menyelamatkan sebisa yang dilakukan.

Begitu halnya dengan keterpurukan multidimensi yang melanda bangsa ini. Tentu semua tahu kalau kini keadaannya sudah berskala besar dan merisaukan. Masalah tenaga kerja asing, nilai tukar rupiah anjlok dan hutang negara bisa jadi pula di luar kemampuan pribadi seorang presiden untuk mengatasinya. Meski demikian, seperti nasihat Pak Tua, kita wajib untuk memulai dan berbuat sesuatu yang pasti bisa dilakukan untuk bangsa ini. Lalu, dari mana harus dimulai ?

Pertama, mulai dari diri sendiri. Kita harus perkuat tekad dan komitmen untuk berani berbeda melawan arus gelombang demoralisasi dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam lingkungan kantor, keluarga maupun masyarakat.

Kedua, harus menetapkan target untuk berusaha membantu teman agar berada sekapal dengan kita. Tiap hari kita bertanya, apa yang telah aku lakukan buat diriku dan temanku untuk mempengaruhi komitmen moral agar tidak tergelincir?

Lebih jauh lagi, kita juga perlu memperluas dan memperkuat penyadaran dan pencerahan hidup melalui berbagai forum apa saja yang bisa dimanfaatkan. Sesungguhnya jatuh bangun sebuah bangsa pasti digerakkan oleh faktor sebab yang bekerja di balik semua peristiwa, baik yang dianggap kecil maupun yang besar, yang disadari maupun yang tidak disadari, yang baik maupun yang buruk, yang diterima maupun yang diingkari.

Melalui logika seperti itu, sebenarnya keterpurukan yang menimpa bangsa ini jelas merupakan produk kita sendiri. Jalinan antara faktor struktur dan kultur politik demikian pengap sehingga sudah sulit dipisahkan lagi, mana variabel sebab dan mana variabel akibat. Akhirnya kita semua menanggung akibatnya dan secara moral kita semua turut bertanggung jawab mengingat struktur dan kultur tidak bisa dimintai tanggung jawab.

Bagi mereka yang begitu dangkal memahami dan menjalani hidup, mata hati dan pikirannya hanya mampu memandang karma yang berlaku dalam jarak pendek, terutama yang terkait langsung dengan kebutuhan fisik. Orang yang menjadikan kekayaaan materi sebagai ukuran sukses dan sumber kebahagiaan harus siap hidupnya gelisah karena kualitas dan masa berlakunya hanya berlangsung pendek.

Terlebih jika cara meraihnya tidak mengikuti kaidah hukum moral dan sosial maka karma negatif yang akan ditemuinya. Di sekeliling kita sudah banyak contoh. Mereka yang dahulu hebat karena dengan seenaknya menjarah harta negara, kini mulai merasakan akibatnya. Rasa harga diri lenyap dan sejarah mengutuk sebagai perusak bangsa, bukannya pembangun bangsa. Di tengah hantaman keterpurukan yang masih mendera, kita harus bisa keluar dari jeratan dampak negatif masa lalu. Kita bangun optimisme sambil melakukan pertobatan serta belajar dari kesalahan masa lalu.

Yang pasti, Tuhan tidak pernah menghukum suatu bangsa tetapi mereka sendiri yang sebenarnya berbuat aniaya dan bertindak kejam pada dirinya. Celakanya, manusia lebih senang memilih bertindak bengis dan bodoh pada sesamanya. Untuk itu mari semua ini kita renungkan.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help