Opini Publik

Mahasiswa dalam Pesta Demokrasi

Dan, tentu tidak kalah pentingnya yaitu momentum pesta demokrasi pelaksanaan Pilkada serentak di 171 daerah

Mahasiswa dalam Pesta Demokrasi
web
ilustrasi pilkada

Oleh: Muhammad Fauzan, Mahasiswa Fisipol ULM Banjarmasin

Memasuki 2018 ini, masyarakat banyak disuguhkan dengan berbagai momentum besar. Sebut saja event sekelas FIFA World Cup, ASEAN Games, beserta event lainnya. Dan, tentu tidak kalah pentingnya yaitu momentum pesta demokrasi pelaksanaan Pilkada serentak di 171 daerah, mencakup 17 Provinsi, 39 Kota dan 115 Kabupaten seluruh Indonesia serta prosesi persiapan menuju Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Presiden tahun 2019.

Riuh Pilkada kini telah menyebar hampir merata di berbagai kota, kabupaten ataupun provinsi yang menyelenggarakan perhelatan akbar demokrasi di tingkatan lokal. Dengan irisan kepentingan menyongsong Pemilu 2019, tensi politik menjadi memanas, suhu politik mulai mendidih menyebabkan pertarungan membangun citra kian ingar-bingar seiring berbagai publisitas yang dimainkan oleh media. Partai politik, elit politik, simpatisan, dan calon kepala daerah tentu berlomba mati-matian untuk meraih kemenangan dengan berbagai strategi dan manuver.

Berpredikat sebagai seorang akademisi (mahasiswa) sudah barang tentu seyogyanya mengambil peran penting dalam berbagai aspek bidang kehidupan termasuk dalam bidang politik. Pesta demokrasi tahap pertama sudah di depan mata, peran mahasiswa sebagai agen perubahan, kontrol moral, dan iron stock dituntut untuk memainkan peran tersebut sebagai bukti bahwa mahasiswa masih mampu menunjukkan eksistensinya dengan aktif.

Sebagai agen perubahan dalam bidang politik, mahasiswa tidak harus terjun ke lapangan bermain dengan para pemangku kepentingan elite politik. Sebab, sejatinya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dapat diartikan sebagai seorang yang membuat perubahan tanpa menimbulkan dampak negatif pada masyarakat, mengingat bahwa jika seorang telah terjun di wilayah politik terlalu berisiko mendapatkan konsekuensi. Konsekuensi seseorang jika bergelut di bidang politik adalah harus mampu menanggung konsekuensi sosial seperti bullying, pengasingan diri, maupun tekanan mental.

Kontrol moral adalah salah satu peran penting yang harus dijaga oleh seorang mahasiswa selama menjalankan kehidupannya di tengah-tengah masyarakat walaupun itu menjadi tugas semua elemen sosial kemasyarakatan. Peran mahasiswa sebagai kontrol moral merupakan semangat bagi kaum intelektual (mahasiswa) untuk mampu menganalisis kondisi sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.
Analisis yang digunakan tidak serta-merta terjadi begitu saja tetapi tentunya melalui beberapa mekanisme yang ditandai munculnya kesadaran pribadi, kesadaran etis, sehingga menimbulkan kesadaran kolektif yang terjadi dalam sistem sosial secara keseluruhan.

Peran mahasiswa dalam kaitannya dengan iron stock adalah menanggung nilai etis sebagai penyandang predikat ‘mahasiswa’ secara bahasa maha yang artinya tinggi dan siswa adalah terpelajar. Sudah menjadi kebenaran absolut bagi yang menyandang predikat mahasiswa. Masyarakat menilai mahasiswa adalah orang yang berpendidikan dan mempunyai kemampuan dalam keilmuan yang dilatarbelakanginya. Kepercayaan dari masyarakat itu yang menjadikan mahasiswa poros penting dalam berkehidupan termasuk persoalan sosial dan politik.

Oleh karena itu, di tahun politik dewasa ini, mahasiswa sebaiknya memilah terlebih dahulu berbagai informasi yang ada. Termasuk informasi yang beredar di media sosial. Informasi yang didapatkan setiap menit maupun detik sebaiknya terlebih dahulu melalui berbagai kajian yang mendalam untuk menarik sebuah kesimpulan. Kontribusi mahasiswa di tahun politik saat ini hendaknya mengambil tindakan yang betul-betul melalui pengkajian mendalam terlebih dahulu untuk menarik suatu kesimpulan.

Sebagai seorang mahasiswa yang berlatar belakang ilmu sosial politik, misalnya, idealnya ikut andil dalam ajang lima tahunan ini. Ada beberapa peran yang bisa dilakukan sebagai seorang akademisi sejati. Pertama, semua sepakat bahwa Pemilu dan Pilkada telah menjadi wadah aspirasi politik warga negara, khususnya mahasiswa. Namun pada praktoknya, ada banyak kecurangan-kecurangan yang terjadi di tengah pesta demokrasi ini.

Maka, oleh karena itu, mahasiswa bisa mengambil peran dalam Pilkada untuk mensistemasi dan mengorganisir para pemilih untuk menjadi cerdas, dan memberikan pengetahuan berupa pemahaman melek politik agar memilih calon pemimpin berdasarkan kinerja dan kreadibilitasnya selama ini.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved