Serbuan Gepeng Saat Ramadhan

NEWS ANALYSIS, Psikolog ULM Sukma Noor Akbar: Manusia Gerobak, Masalah Mental

Manusia gerobak yang mengatasnamakan pemulung di Kota Banjarmasin sudah bukan hal asing lagi bagi kita.

NEWS ANALYSIS, Psikolog ULM Sukma Noor Akbar: Manusia Gerobak, Masalah Mental

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Manusia gerobak yang mengatasnamakan pemulung di Kota Banjarmasin sudah bukan hal asing lagi bagi kita. Setiap Ramadhan, manusia gerobak bermunculan dan semakin banyak saat jelang Lebaran.

Masalah ini pada dasarnya adalah masalah mental. Berdasarkan psikologi sosial, mental meminta-minta semakin terbentuk lantaran mudahnya mendapatkan uang dengan jalan meminta-minta.

Setiap tahun bisa saja menurun atau bahkan meningkat, namun tidak hilang. Hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan menurut mereka ini menjanjikan untuk Ramadhan.

Ada masyarakat yang memberi dan hasilnya banyak yang bisa diterima oleh manusia gerobak ini. Akibatnya, manusia gerobak semakin merasa nyaman dengan kondisi itu dan menetap menjadi manusia gerobak.

Baca: Gang Neraka, Kampung Manusia Gerobak di Alalak Selatan Banjarmasin, Begini Kondisinya

Memanfaatkan sedekah masyarakat selama Ramadhan sangat terlihat dalam hal ini. Pasalnya manusia gerobak banyak muncul selama Ramadan.

Setelah Ramadhan mereka kembali ke kehidupan sebelumnya dengan profesi sebelumnya, baik pemulung di tepi jalan atau hanya di rumah. Artinya, setelah Ramadan pendapatan mereka dari manusia gerobak menjadi menurun.

Dalam kasus ini diketahui oleh manusia gerobak bahwa masyarakat kita sangat mudah memberi ke orang yang terlihat menyedihkan. Pada dasarnya memberi itu baik, namun lebih baik memberi kepada orang benar-benar baik.

Manusia Gerobak di Jalan Hasan Basry Kayu Tangi Banjarmasin
Manusia Gerobak di Jalan Hasan Basry Kayu Tangi Banjarmasin (banjarmasinpost.co.id/nurur syobah)

Sekarang kan kita sudah punya Badan Amil Zakat Nasional. Dengan memberi sedekah, zakat dan infaq ke badan yang mengelola maka perilaku dan mental orang yang suka meminta-minta menjadi turun. Mereka otomatis tidak akan menjadi manusia gerobak lagi jika tak ada yang memberi.

Selain itu peran pemerintah dalam hal ini penting. Pemerintah bisa memberi pengarahan ke masyarakat yang saya tahu memang ada kampungnya manusia gerobak agar saat Ramadan mereka kembali menjadi manusia gerobak.

Jika masih tetap menjadi manusia gerobak penertiban dan pengawasan dan penjagaan ketat bisa dilakukan. Dengan itu wajah kota menjadi lebih menarik tanpa ada potret kemiskinan di kota yang salah satunya manusia gerobak itu. (rii)

Baca lebih lengkap di Harian Banjarmasin Post Edisi Kamis (7/6/2018)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help