Berita Banjarbaru

Penjual Emas Imitasi Asal China Dideportasi, Tak Bisa Bahasa Indonesia Begini Cara Transaksinya

Kantor Imigrasi Kelas 1 Banjarmasin pun sedang mempersiapkan untuk mendeportasi WN asal China tersebut.

Penjual Emas Imitasi Asal China Dideportasi, Tak Bisa Bahasa Indonesia Begini Cara Transaksinya
banjarmasinpost.co.id/nia kurniawan
Wen Xianyou, pria kelahiran Jianxi-RRT 7 Oktober 1975 akan dideportasi, dia narapidana di Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Banjarbaru 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Wen Xianyou, pria kelahiran Jianxi-RRT 7 Oktober 1975 yang selama ini mendekam di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Banjarbaru bakal dideportasi. Kantor Imigrasi Kelas 1 Banjarmasin pun sedang mempersiapkan untuk mendeportasi WNA tersebut.

Kepala Kanim Banjarmasin Syahrifullah menyatakan bahwa yang bersangkutan diputus bersalah dan dipidana penjara selama tiga bulan dan pidana denda sebesar Rp. 25.000.000. dengan ketentuan apabila tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan.

Pengadilan Negeri Banjarbaru memutuskan hukuman itu pada hari Kamis 8 Februari 2018 karena yang bersangkutan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana.

Baca: Bukan Ayu Ting Ting, Pesbukets Diminta MUI Stop Tayang Karena Dewi Perssik, Ini Penjelasan MUI

Dengan sengaja menyalahgunakan atau melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan pemberian Izin Tinggal yang diberikan kepadanya sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 122 huruf a UURI Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Kasubsi Pengawasan Keimigrasian Kanim Banjarmasin Bayu menceritakan bahwa yang bersangkutan datang ke Indonesia menggunakan visa untuk melakukan bisnis tetapi pada kenyataannya dia melakukan kegiatan menjual emas imitasi di Pasar Martapura sehingga ditangkap pada akhir tahun 2017 karena meresahkan masyarakat.

Wen Xianyou tidak fasih berbahasa Indonesia sehingga jika bertransaksi dengan pembeli dilakukan dengan cara menulis daftar harga dan demikian juga ketika bernegosiasi dengan calon pembeli.

Sebagai barang bukti penangkapan antara lain adalah 20 gulung perhiasan emas imitasi, 72 plastik klip yang berisi perhiasan emas imitasi dan peta wilayah Indonesia berbahasa China.

Baca: Buntut Kasus Pelecehan Via Vallen, Tagar #sayajuga Bermunculan, Ini Kisah Kirana Larasati

Kepala Divisi Keimigrasian Kalimantan Selatan Dodi Karnida menyatakan bahwa kegiatan WNA tersebut di wilayah Indonesia itu perlu dicermati secara mendalam karena dia datang ke Indonesia dengan ongkos yang tidak murah kemudian harus menyediakan uang untuk akomodasi, transportasi, konsumsi dan kebutuhan lainnya.

"Sementara keuntungan dari kegiatan menjual yang dilakukan menurut saya tidak seimbang dengan modalnya. Mungkin saja kegiatannya hanya kamuflase biasa padahal yang sebenarnya ia bermaksud belajar Bahasa Indonesia, Bahasa atau karakter suatu daerah dan mengumpulkan data penting suatu wilayah untuk suatu kepentingan tertentu. Inilah yang harus kita dalami bersama agar tidak merugikan kita baik pada masa kini maupun pada masa mendatang," beber Dodi.

Dodi menambahkan bahwa setelah Napi WNA diterima Kanim, maka selanjutnya Kanim kemudian memproses persiapan pendeportasiannya yang meliputi penyiapan tiket pesawat yang harus disediakan oleh yang bersangkutan, pemerintahnya atau keluarganya; kemudian dibuatkan prosedur Izin Berangkat (Exit Permit Only-EPO) dengan Cap Merah yang artinya ia akan diusulkan ke Direktorat Jenderal Imigrasi agar namanya dimasukkan ke dalam Daftar tangkal atau penangkapan selama enam bulan dan dapat diperpanjang setiap 6 bulan sebagaimana diatur dalam Pasal 75 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian.

Kalapas Banjarbaru, Ahmad Heriansyah, ia akan dibebaskan dari Lapas dan akan diserahkan kepada Kantor Imigrasi Banjarmasin. (banjarmasinpost.co.id/kur)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved