Home »

Bisnis

» Makro

Ekonomi dan Bisnis

Banyak Pabrik Rotan di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal, Ini Penyebabnya

Pabrik rotan saat ini hanya tinggal menunggu ajalnya. Beberapa di antara pabrik rotan sudah collaps atau tutup.

Banyak Pabrik Rotan di Banjarmasin Tinggal Menunggu Ajal, Ini Penyebabnya
Airul Syahrif
Tumpukan rotan sudah bertahun-tahun di gudang penyimpanan. Kondisinya sudah lapuk dan bisa digunakan lagi. Karena tidak laku dan tidak boleh diekspor. Banjarmasin, Jumat (8/6/2018) pagi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 35 Tahun 2011 secara tegas melarang ekspor rotan yang mencakup rotan asalan, rotan mentah, dan rotan setengah jadi.

Pabrik rotan saat ini hanya tinggal menunggu ajalnya. Beberapa di antara pabrik rotan sudah collaps atau tutup. Hal ini karena banyaknya pasokan rotan, namun tidak diimbangi dengan penjualan atau pengeluaran rotan tersebut.

"Ya bukannya saya pesimis, tapi memang sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Terutama karena rotannya banyak yang masuk dan tidak ada yang menyerap atau membeli. Jadinya tidak seimbang. Misalnya di sini ada sekitar 300 kg yang dikelola menjadi barang jadi, tapi 700 kg nya dikemanakan, kalau tidak di ekspor. Tapi saat ini dilarang ekspor," tutur Anwari Ihsan (60), pemilik CV Duta Barito saat ditemui banjarmasinpost.co.id, di Jalan Keramat Basirih, Banjarmasin Selatan, Jumat (8/6) pagi.

Baca: Dirut RSUD Ulin Sebut Istri Wagub Kalsel Menderita Sakit Autoimun, Apa Autoimun? Ini Penjelasannya

Di gudang rotan milik Anwari terlihat banyak tumpukan rotan. Tingginya hampir mencapai tujuh meter. Warna rotan sudah mulai usang.

"Itu di gudang banyak tumpukan rotan yang sudah lapuk. Sudah bertahun-tahun di gudang, karena ga bisa di ekspor. Ya, harapan satu-satunya supaya keran ekspor rotan bisa dibuka lagi," jelas Anwari sambil menunjuk gudang rotan miliknya.

Baca: Geliat Industri Rotan Kalsel, Dibikin Tikar Hingga Kirim Produk Setengah Jadi Ke Cirebon

Dulu sebelum adanya larangan ekspor rotan, Anwari sempat mempunyai pegawai hingga 2.000 orang. Namun setelah muncul Permendag 35/2011, saat ini dirinya hanya mempekerjakan 150 orang pegawai.

Pengusaha rotan puluhan tahun ini, berharap Permendag Nomor 35 Tahun 2011 agar segera dicabut. Karena ini akan merugikan banyak pihak. Terutama petani rotan.

Saat ini pabriknya memproduksi bahan mentah rotan hingga menjadi tikar rotan. Anwari memprediksi pabrik rotan miliknya hanya dapat bertahan hingga akhir tahun ini, atau paling lama satu tahun kedepan. (Banjarmasinpost.co.id/airul syahrif)

Penulis: Airul Syahrif
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help