FIKRAH

Kesabaran Rasulku

Dalam persepsi Islam, ada tiga macam sabar; Sabar untuk taat, sabar meninggalkan maksiat dan sabar menghadapi cobaan.

Kesabaran Rasulku
Net
KH Husin Naparin 

Kata keduanya,“Abu Thalib, apakah kau tinggalkan agama nenek moyangmu.”

Nabi SAW berkata lagi, “Ayahku, katakan Allah sudah cukup, aku akan bersaksi di hadapan Allah bahwa kau telah beriman.”

Ia menolak dan meninggal dunia tanpa kalimat tauhid. Nabi SAW bersabar akan keadaan ini.

Nabi SAW pergi ke Taif menyampaikan dakwah Islam, tapi ditolak mentah-mentah. Seorang tokoh Taif berkata, ”Apakah Allah tidak menemukan orang lain untuk diangkat menjadi rasul?” Beliau diusir dengan lemparan batu.

Dalam perjalanan pulang, beliau berteduh di bawah pohon. Jibril AS menawarkan, apakah Nabi SAW mau gunung-gunung di negeri itu diangkat ke langit kemudian dijatuhkan kepada penduduk Taif.

Beliau menolak dengan sabar, “Tidak usah, aku masih mengharapkaan dari keturunan mereka ada yang beriman,” kata beliau. Usai perang Hunain, Nabi SAW membagi ganimah, lalu ada yang dilebihkan untuk melembutkan hati mereka dalam Islam, seperti Aqra’ dan Uyainah masing-masing 100 ekor unta, dan beberapa tokoh Arab lain.

“Itu tidak adil,” kata seseorang. Nabi SAW pun berkata, “Siapa lagi yang adil selain Allah dan Rasul-Nya?”

Umar berang, “Penggal saja leher orang yang berkata itu,” teriaknya. Namun Nabi SAW melarang, beliau sabar atas tuduhan itu. Sabar terakhir bagi Rasul ialah ketika menghadapi sakit sakratal-maut. Aisyah RA berkata, “Aku tidak pernah melihat ada orang menderita sakit sakratal maut, seperti yang diderita oleh baginda Rasul.” (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved