Cerpen: Simbol Pernikahan

Mereka akan mengamuk, jika anak-anaknya tak pergi memukul pohon yang satu ke pohon yang lain.

Cerpen: Simbol Pernikahan
banjarmasin post group
ILUSTRASI oleh RIZA 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - “Bangunkan pohon-pohon itu, Har!” seru Wak Dar berjingkat. Padahal aku baru selesai menata puluhan kelapa. Tujuh hari lagi, Sani akan menikah.

Aku tak tahu, sejak kapan tradisi membangunkan pohon yang terdengar menggelitik ini dilakukan. Yang kutahu, para orang tua akan marah mendapati anaknya yang hanya diam mematung menikmati bulan purnama.

Mereka akan mengamuk, jika anak-anaknya tak pergi memukul pohon yang satu ke pohon yang lain.
“Bangun. Bangun. Bulan ghering sudah datang!” ucap Herman di depanku sambil memukul-mukul pohon. Persis membangunkan orang yang tertidur lelap.

Bagi kampungku, bulan ghering yang sepatutnya disebut bulan purnama, dianggap sakral dan menakutkan. Tak boleh sembarang berucap dan bertingkah. Sebab saat bulan memerah, emosi manusia tak terkontrol.

Persis gelombang laut yang ikut pasang. Dan sepertinya, anggapan ini benar-benar terwujud di sosok Wak Dar yang sedari tadi mengawasi kami –anak-anak yang baru beranjak remaja- agar terus memukul pepohonan sambil keliling kampung.

“Bangun! Bangun! Bulan ghering sudah datang!”
“Tak usah bangun! Tak usah bangun! Bulan ghering hanya sebentar.”
“Kenapa tak dibangunkan? Nanti kau dimarahi Wak Dar,” seru Herman dengan alis menyatu.
“Tak apa. Biarkan dia tidur. Pohonnya lagi sakit.”

Herman menatapku lekat. Lalu pergi mengadu ke Wak Dar. Dasar. Bisa-bisanya dia cerita pada orang tua itu. Padahal Herman lelaki. Tak pantas bermulut lebih dari satu. Benar saja, Wak Dar datang dengan muka beringas. Sedang Herman tersenyum menang di belakangnya.

“Kau mau kuhukum? Bisa-bisanya kau menyuruh tidur pohon-pohon ini. Kau mau kita dapat bala?”
“Pohon ini lagi sakit, Wak. Kalau Wak Dar tak percaya, coba lihat daun-daunya yang dimakan ulat,” ucapku memberanikan diri.

“Kau kira aku percaya kata-katamu? Kau kira kamu siapa bisa mengatakan pohon ini sakit? Kalau mau bohong, carilah alasan yang masuk akal!”
“Bangunkan pohon juga tak masuk akal, Wak.”
“Ehar! Benar-benar kau tumbuh menjadi anak bebal. Ibumu pasti menangis melihatmu nakal seperti ini. Sekarang, kau ambil air! Isi sampai penuh kamar mandi itu!”

Sungguh, aku ingin melawan Wak Dar. Bisa-bisanya dia membawa ibuku yang sudah tenang di alam sana. Menyebut ibuku menangis pula. Padahal aku anaknya. Aku yang selalu berdoa agar Ibu selalu bahagia di sana.

Ah, tak apa. Biarkan saja Wak Dar menghukumku begini. Lebih baik aku mengangkut air daripada ikut membangunkan pohon-pohon. Kupastikan sebentar lagi, anak-anak tadi akan berdandan dan menari di bawah temaram bulan purnama.

Memang seperti itu. Usai membangunkan pohon, mereka akan mencuci muka dan berdandan. Bagi anak perempuan, akan memakai bedak tebal disertai lipstik milik ibunya, lalu memakai wewangian.

Sedang anak lelaki, cukup cuci muka dan memakai wewangian. Lalu mereka akan menari sambil tertawa-tawa.

Inilah penggalan cerpen berjudul Simbol Pernikahan karya Nurilla. Selengkapnya baca di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (10/06/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help