Esai Zulfaisal Putera: Kematian

Kematian tetap membuat perasaan tidak nyaman, pikiran tak karuan, dan jantung degdegan. Tersebab kematian identik dengan bakal kehilangan.

Esai Zulfaisal Putera: Kematian
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Sampai memasuki bulan ke-6 di Tahun 2018 ini, ada banyak kematian yang mendera-dera batinku.

Kematian keluarga, kematian orang-orang yang aku kenal baik dan berteman dengannya, dan kematian orang-orang yang aku kenal dan kagumi, baik karena ketokohannya maupun pribadinya, sekali pun secara pribadi aku takpernah komunikasi langsung.

Beberapa kucatat dengan tinta kedukaan yang mendalam. Ada sepupu sekali, kakak ipar, dan paman dari istri. Ada sahabat akrab waktu sekolah, ibunda dari kawan serantang seruntung, dan suami temanku.

Ada Bu Miss Erna Fauziah, seniman tradisi Banjar. Ada Yon Koeswoyo, Yockie Suryoprayogo, Sys NS, Amoroso Katamsi, dan Deddy Sutomo, artis yang setia dengan dunianya.

Ada pula Darmanto Jatman (sastrawan), Dawam Raharjo (cendekiawan), dan Stephen Hawking (fisikawan Inggris), yang selama ini sangat menginspirasi.

Bahkan dalam seminggu ini, Banua kehilangan dua tokoh sekaligus: Muhammad Ramlan (pengusaha) dan Hj Rosdiawati, istri Wakil Gubernur Kalsel. Semua pergi mengejutkan dan meninggalkan kesedihan mendalam.

Kematian memang selalu datang mengejutkan. Sekali pun semua insan di dunia ini percaya bahwa suatu saat akan mati, tetapi tibanya kematian tetap takpernah terduga dan tetap mendebarkan.

Bahkan, bagi keluarga yang menunggu anggota keluarganya yang sedang sakit dan sudah divonis sebentar lagi akan ‘berakhir’ tetap kehadiran kematian mengagetkan.

Kematian memang misteri. Tuhan punya kuasa mutlak atas itu. Dia yang tahu dan tentukan. Walau dengan keyakinan penuh atas takdir itu, manusia tetap takmampu menerima sebuah kematian dengan hati tenang.

Kematian tetap membuat perasaan tidak nyaman, pikiran tak karuan, dan jantung degdegan. Tersebab kematian identik dengan bakal kehilangan.

Ya, kematian adalah kehilangan. Matinya sebuah jasad karena kehilangan ruh yang selama ini bersamanya. Matinya seseorang yang menjadikan orang lain merasa kehilangan karena selama ini merasa memiliki sepenuhnya.

Matinya insan yang mengakibatkan insan lain kehilangan harapan karena selama ini berketegantungan dengannya. Kematian menghilangkan segalanya.

Itulah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Kematian. Selengkapnya baca di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (10/06/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved