Opini Publik

Menjaga Laut dari Sampah Plastik (Memperingati Hari Laut Sedunia)

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka peringatan Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) yang diperingati tanggal 8 Juni

Menjaga Laut dari Sampah Plastik (Memperingati Hari Laut Sedunia)
National Geographic
Sampah plastik di lautan. Ilmuwan menyatakan bahwa 99 persen plastik m ikroskopik di lautan hilang, kemungkinan dimakan hewan. 

Oleh: APRIZAL JUNAIDI SKEL, Analis Kelautan dan Perikanan di Wilker Banjarmasin, BPSPL Pontianak Kementerian Kelautan dan Perikanan

Sebagai salah satu isu global, pencemaran sampah plastik di laut saat ini telah menjadi perhatian dari berbagai Negara. Kerena berdasarkan beberapa penelitan menunjukkan jika permasalahan ini tidak dapat diselesaikan dengan segera, maka diperkirakan pada tahun 2050 jumlah sampah plastik yang ada di laut akan lebih banyak dari jumlah ikan.

Berangkat dari permasalahan tersebut, maka peringatan Hari Laut Sedunia (World Oceans Day) yang diperingati tanggal 8 Juni setiap tahunnya, kali ini mengusung misi/menfokuskan aksi bersama pada pencegahan sampah plastik masuk ke dalam laut serta membersihkan laut dari sampah plastik yang telah ada untuk mendorong laut yang sehat. Seperti yang disampaikan The Ocean Project selaku koordinator global event World Ocean Day pada halaman webnya.

Hal diatas tidaklah berlebihan mengingat dampak pencemaran sampah plastik yang luar biasa pada kehidupan laut. Bahkan pencemaran plastik ini dinyatakan lebih berbahaya dibanding dampak dari tumpahan minyak karena sifatnya yang tidak dapat hancur dengan sendirinya dan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk hancur secara alami.

Selain itu sampah plastik yang terurai menjadi sampah mikro-plastik, berpotensi menyebabkan tercemarnya rantai makanan oleh mikro-plastik, yang dalam kondisi tertentu mengikat bahan berbahaya yang menjadi ancaman terbesar bagi biota laut, serta ekosistem/habitatnya.

Seperti kasus ditemukannya 30 kantong plastik, bungkus permen, kantong roti, dan sampah lain di dalam perut paus berparuh cuvier yang terdampar di perairan Norwegia, akhir Januari 2017.

Temuan sampah plastik itu mencerminkan betapa sampah plastik di lautan pada saat ini telah menjadi satu dari sekian banyak masalah serius yang harus segera diatasi oleh negara-negara yang memiliki laut dan garis pantai, termasuk Indonesia.

Hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasikan pada tahun 2015 menyebutkan bahwa Indonesia sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton. Angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Sebuah rekor yang tentunya membuat kita semua prihatin. Sekaligus menjadi bukti masih rendahnya kesadaran masyarakat dan negara Indonesia dalam menggunakan dan mengelola sampah plastik. Dimana sebanyak 80 persen dari total sampah plastik yang ada di laut berasal dari daratan. Sampah-sampah tersebut masuk ke lautan, disebabkan oleh pengelolaan sampah yang kurang efektif dan perilaku buruk dari masyarakat pesisir di seluruh dunia dalam menangani sampah plastik. Ironisnya, sebelum sampah plastik itu mendapat perlakuan Reduce, Reuse,dan Recycle (3R) di darat, benda-benda itu telah masuk ke laut. Akibatnya, sampah plastik seperti bekas botol minuman, kantong plastik, bekas bungkus makanan, dan sampah plastik lainnya menjadi masalah krusial di laut.

Pencemaran laut akibat sampah plastik ini tersebut, tidak hanya berdampak buruk terhadap kehidupan biota laut dan lingkungan, tapi juga merugikan dari sisi ekonomi karena pendapatan negara dari sektor kelautan menurun.

Halaman
12
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help