Home »

Kolom

» Tajuk

Tajuk

Menanti Pemimpin Tak Berhitung Ulang

Para bakal calon kepala daerah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota, sudah pasang kuda-kuda untuk berlaga dalam kontestasi figur terpilih

Menanti Pemimpin Tak Berhitung Ulang
wartakota
Tinta Pemilu saat pencoblosan 

‘PESTA rakyat’ pemilihan kepala daerah tinggal hitungan hari. Para bakal calon kepala daerah mulai tingkat provinsi hingga kabupaten dan kota, sudah pasang kuda-kuda untuk berlaga dalam kontestasi figur terpilih. Masing-masing pun sudah mendaftarkan diri di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat. Ada yang diusung partai politik, ada pula yang maju tanpa bantuan partai politik alias independen. Dan, pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa pesta rakyat memiliki sisi lain dari sekadar kontestasi figur. Fakta bahwa menjelang “pesta rakyat’ fi gur yang ikut kontestasi selalu hadir dengan memoles diri menjadi begitu populis. –yang dipadukan dengan seribu janji manis menjadi investasi pemikat.

Persoalannya, sejauh mana janji manis itu bisa benar-benar direalisasikan oleh figur yang terpilih nantinya. Nah, di sinilah sebenarnya persoalan yang selalu menjadi tolak ukur niat awal seseorang maju sebagai kontestan pesta. Tidak heran kalau kemudian tidak sedikit mereka yang akhirnya harus berurusan dengan hukum karena mendahulukan nafsu serakah, ketimbang moralitas. Fakta bahwa dalam setahun terakhir ini sudah belasan penguasa mulai di tingkat provinsi, kabupaten dan kota menjadi ‘pasien’ Komisi Pemberantasan Korupsi.

Wajar kemudian lembaga antirasuah itu mengingatkan para calon penyelenggara negara pada ‘pesta rakyat’ nanti mengambil pelajaran dari mereka yang telah ‘tersandera’ hukum. Artinya, para calon penyelenggara harus didasari oleh niat yang tulus dan merefleksikan kejujuran diri dalam setiap pengambilan kebijakan. Kepercayaan atau amanah yang telah diberikan oleh rakyat harus benar-benar menjadi bagian dalam setiap perbuatan dan tindakan –sesuai janji-janji manis yang diumbar penuh ketulusan niat calon penguasa.

Jujur saja, kita sudah amat muak menyaksikan drama satire kepala daerah si Fulan, si Dudung dan si Badu berurusan dengan KPK. Kita juga sedih melihat para pesakitan itu masih bisa tersenyum dengan berbagai gayanya masing-maing di depan kamera awak media. Kita sedih mereka seolah seperti seorang tak berdosa.

Kita berharap‘pesta rakyat’ Juli mendatang, melahirkan figur-figur terpilih yang didasari niatan yang tulus mengemban amanah dari rakyat. Kita tidak ingin kekuasaan hanya dijadikan sebagai sarana untuk berhitung ulang apa-apa yang telah dikeluarkan. Akan sangat bijak ketika kekuasaan bersandarkan pada kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi, kelompok ataupun golongan. Toh, penyalahgunaan kekuasaan tidak hanya akan melahirkan tanggung jawab di depan hukum, tapi juga di hadapan Tuhan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help