Bumi Sanggam

ADV Online Balangan) Bupati Ansharuddin Mengaku Bernostalgia Saat Melihat Acara Tanglong

Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur tahun 2018, di Taman Sanggam Balangan mendapatkan apresiasi dari Bupati Balangan

ADV Online Balangan) Bupati Ansharuddin Mengaku Bernostalgia Saat Melihat Acara Tanglong
ist
Bupati Ansharuddin beserta sejumlah pejabat Pemkab Balangan saat memainkan alat untuk bagarakan sahur 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN - ‪Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Kesenian Balangan (DKB) yaitu Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur tahun 2018, di Taman Sanggam Balangan mendapatkan apresiasi dari Bupati Balangan, pimpinan Dandim 1001/Amt-Balangan serta para Kepala Struktur Organisasi Perangkat Daerah (SOPD).

Dihadiri ribuan warga dari berbagai daerah berdekatan dengan kabupaten yang berjuluk Bumi Sanggam, kegiatan dilaksanakan sejak Senin (11/6) - Rabu (13/6) malam.‬

‪Bupati Balangan, H Ansharuddin mengatakan, momen ini membuat ia teringat nostalgianya masa remaja. Dimana setiap bulan Ramadhan, dirinya sering menyaksikan budaya tanglong, sekaligus dirinya terlibat dalam grup bagarakan sahur.‬

‪"Kita dulu memang anggota bagarakan sahur, dari jam dua malam kita sudah jalan keliling kampung untuk membangunkan warga dengan memainkan alat musik seadanya," ungkapnya.‬

‪Dalam penyampaian tradisi budaya yang dilakukan oleh para duta wisata bumi sanggam, yakni Ikatan Nanang Galuh (INAGA) Balangan, bagarakan sahur di Kabupaten Balangan merupakan sebuah kreasi dan kreatifitas untuk menggunakan apa yang ia temukan disekitar.‬

‪Sebenarnya budaya itu tidak jauh dengan banyak aktivitas pemuda lain di nusantara pada malam-malam bulan Ramadhan.‬

‪Hanya saja, untuk wilayah Kabupaten Balangan, budaya bagarakan sahur lebih spesifik dengan kemampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan masyarakat dan potensi alam.‬

‪Dimana dalam acara bagarakan sahur sering kali orang memanfaatkan peralatan seadanya, seperti besi-besi tua, peralatan tani seperti besi pacul, bajak, parang, linggis, serta jenis besi lain yang mampu mengeluarkan suara nyaring, atau mungkin botol bekas, ditambah dengan kentungan terbuat dari bambu, bahkan ember serta jirigen sebagai bedug.‬

‪Konon, pada era tahun 60-an hingga era tahun 70-an bagarakan sahur menjadi hiburan rakyat yang populer setiap Ramadhan.‬

‪Saat itu, tak hanya besi tua yang menjadi alat yang dipukul tetapi ditambah dengan suara seruling, gendang, dan gong.‬

‪Suara dentingan besi tua diselingi dengan suara seruling, gendang, dan gong menghasilkan irama yang enak didengar. Akibatnya, warga selain mudah terbangun oleh suara bising besi tua juga merasa terhibur oleh suara suling dengan irama khas lagu-lagu Banjar.

Bagarakan sahur itu sendiri merupakan aktivitas sekelompok remaja ataupun pemuda di Kabupaten Balangan, bahkan masyarakat di Kalimantan Selatan yang rela bangun di tengah malam selama bulan puasa dengan tujuan membangunkan kaum muslim untuk makan sahur.‬

‪Tidak ada catatan yang menyebutkan awal bagarakan sahur dilakukan di daratan Kalimantan Selatan yang didominasi suku Melayu Banjar.‬

‪Tetapi di kalangan masyarakat tertanam pengertian bahwa budaya itu bagian dari kehidupan kaum Melayu Islam dalam sebuah kegiatan sosial demi memastikan warga kampungnya tidak lupa untuk bangun dan beraktivitas untuk memasak dan mempersiapkan sajian makan sahur.‬

‪Biasanya, aktivitas bagarakan sahur dilaksanakan sekitar pukul 02.00 Wita hingga pukul 03.00 wita, dimaksudkan agar masyarakat segera terbangun, sehingga mendapatkan ruang dan waktu atau kesempatan untuk menyelesaikan aktivitas memasaknya, sebelum memulai puasa, yakni sejak masuk waktu imsyak dengan ditandai adzan subuh, hingga masuk waktu berbuka puasa pada waktu adzan magrib.(*/AOL)

Penulis: Elhami
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help