Tajuk

Diplomasi Koboi ala Trump

Pertemuan antara Donlad Trump dengan Kim Jong Un ini merupakan kelanjutan dari pertemuan dua pemimpin Korea yang bertikai

Diplomasi Koboi ala Trump
(AFP/Saul Loeb)
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saling berjabat tangan untuk pertama kalinya di Hotel Capella, Singapura, Selasa (12/6/2018). 

KONFLIK di Timur jauh tepatnya di Semenanjung Korea memasuki babak baru. Selasa (12/6) terjadi pertemuan bersejarah antara pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Singapura. Ada sejumlah agenda dan isu yang dibahas dalam pertemuan dua pemimpin dunia ini, diantaranya adalah pelucutan senjata nuklir Korea Utara atau denuklirisasi.

Pertemuan antara Donlad Trump dengan Kim Jong Un ini merupakan kelanjutan dari pertemuan dua pemimpin Korea yang bertikai yakni Presiden Korea Selatan Moon Jae In dengan Presiden Korea Utara Kim Jong Un di perbatasan kedua negara pada Jumat (27/4) lalu.

Keduanya juga sepakat untuk mengakhiri konflik puluhan tahun dan mengurangi ketegangan atas program nuklir Korea Utara.

Jika dilihat sekilas, berkurangnya ketegangan di semenanjung Korea adalah sebuah langkah konstruktif dari pemimpin Korea Utara dan Korea Selatan untuk bersepakat mengakhiri konflik yang bermula tahun 1950-an saat terjadi Perang Korea. Namun, tidak bisa dinafikan bahwa ada peran Amerika Serikat dalam rancangan perdamaian dua Korea ini.

Jika tidak ada peran Amerika Serikat yang menekan Korea Utara dan China seperti mengurangi dukungannya untuk negeri Kim Jong Un itu, mungkin saja jalan damai bakal terjal dan berliku. Namun, Amerika Serikat juga berkepentingan untuk segera menyelesaikan konflik di Semenanjung Korea karena berbagai hal, satu di antara adalah kepentingan hegemoni ekonominya bersama para sekutunya di kawasan tersebut bakal terjaga.

Pemilihan Singapura sebagai tempat pertemuan Donald Trump dengan Kim Jong Un jika dilihat dari strategi politik juga bukan asal-asalan.
Singapura adalah sekutu Amerika Serikat di Asia Tenggara selain Filipina dan Korea Selatan. Pada ketiga negara itu terdapat pangkalan militer Amerika Serikat.

Artinya, Donald Trump secara tidak langsung sebenarnya berada di rumah sendiri saat berdiplomasi dengan Kim Jong Un. Strategi Donald Trump dan Amerika Serikat dalam meredam konflik Semenanjung Korea demi tujuan tertentu, mirip strategi lompat katak yang dilakukan Jenderal Douglas McArthur, jenderal mahsyur pasukan Sekutu asal Amerika Serikat yang memenangkan perang lawan Jepang pada 1944.

Bedanya Jenderal McArthur menggunakan kekuatan fisik dan sarana yang dimiliki untuk memenangkan perang, sedangkan lompat katak ala Trump adalah dengan ‘menekan’ Korea Utara dengan kekuatan yang dimilikinya di kawasan Asia Pasifik dan digunakannya untuk berdiplomasi.

Namun, peran Amerika Serikat ini bukannya tidak berisiko, bahkan bisa jadi balik arah merugikan diri sendiri. Selain itu, diplomasi koboi ala Amerika Serikat yang diterapkan Trump ini tidak selalu sukses. Pada konflik Israel-Palestina, kebijakan Trump memindah kedubes AS ke Yerusalem malah memicu pertikaian kian runcing.

Demikian pula mengenai konflik di kawasan Timur Tengah dengan Amerika Serikat sangat berkepentingan, hingga sekarang menyisakan cerita perih. Irak, Suriah, Lebanon, Libya, Yaman adalah cerita pilu yang masih terus tertulis di tinta sejarah karena konflik tiada akhir. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help