Lebaran Idul Fitri 2018

10 Tempat Wisata di Kalimantan Selatan Untuk Habiskan Libur Lebaran 2018

Liburan panjang lebaran, Idul Fitri 2018 mengasyikan kalau diisi dengan liburan bersama keluarga, kerabat atau teman-teman dekat.

10 Tempat Wisata di Kalimantan Selatan Untuk Habiskan Libur Lebaran 2018
Jembatan Gantung Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah 

Pengunjung bisa bermain di pantai atau snorkeling, melihat keindahan alam bawah laut.

Tiket masuk Rp 3.000 dari Pemda, Rp 2.000 dari desa yang total sebelumnya Rp 5.000. Dengan adanya asunsi jiwa, maka akan ditambah Rp 1.000 untuk asuransi sehingga totalnya Rp 6.000.

Tiket masuk di luar biaya sewa perahu dan alat snorkeling untuk wisata alam bawah laut.

5. Bamboo Rafting di Loksado

Peserta balanting paring
Peserta balanting paring (banjarmasinpost.co.id/pramita)

Daerah pegunungan Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, menyimpan keindahan alam tersendiri.

Wisata paling terkenal di sini adalah bamboo rafting atau menyusuri sungai dengan rakit bambu.

Daerah ini dibelah oleh Sungai Amandit yang berair jernih dan tenang. Di sini banyak perkampungan tradisional suku Dayak.

Daerahnya hijau dikelilingi banyak bukit dan hutan belantara. Hawanya pun tergolong sejuk dan menyegarkan.

Banyak warga setempat yang bermata pencarian menyewakan rakit-rakit bambu untuk para wisatawan yang hendak menyusuri sungai tersebut.

Untuk penginalan biasa satu kamar bisa diisi hingga enam orang berkisar Rp 300.000.

Untik rakit disewakan sekitar Rp 300.000-Rp 350.000, untuk bisa sepuasnya menyusuri keindahan Sungai Amandit.

6.

Bukit Halinjuangan HST
Bukit Halinjuangan HST (Disporapar HST)

 

Tempat objek wisata baru yang mulai muncul di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) terus menarik magnet para wisatawan.

Seperti obyek wisata Puncak Halinjuangan dan Bukit Palawan di Desa Mawangi Kecamatan Padang Batung, HSS ini menjadi destinasi wisata baru yang mulai ramai pengunjung.

Munculnya objek wisata baru ini disikapi serius oleh Dinas Pariwisata dan Olahraga Hulu Sungai Selatan (HSS).

Sekadar diketahui, wisata puncak Halinjuangan berada di Jalan Brigjen H Hasan Basri RT 02 Desa Mawangi Kecamatan Padang Batung.

Objek wisata baru dirintis oleh pemuda karang taruna Rajawali Muda Desa Mawangi. Lokasinya dari Ibu kota HSS, Kandangan tidak terlalu jauh. Jaraknya sekitar 14 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit berkendara dengan perjalanan yang santai.

Setelah sampai di bawah bukit, para pengelola wisata baru ini sudah mempersiapkan tempat parkir yang aman. Selanjutnya, pengunjung bisa melakukan perjalanan ke Puncak Halinjuangan.

Karcis masuk menuju lokasi puncak relative murah yakni Rp 3 ribu dan untuk biaya parkir kendaraan Rp 3 ribu untuk satu sepeda motor.

Perjalanan menuju puncak memang perlu perjuangan. Jalanan menanjak dengan variasi kemiringan sekitar 30 derajat, 45 derajat hingga 60 derajat harus dilalui.

Untuk menuju puncak Halinjuangan tidak terlalu lama. Bila kondisi fisik kuat, sekitar 20 menit perjalanan untuk menuju puncak sudah sampai.

Jalan menuju puncak juga sudah ditata cukup baik. Oleh para pemuda karang taruna, dibuatkan jalan berundak-undak.

Memang, saat hujan kondisi jalan cukup licin karena masih berupa tanah asli. Oleh pengelola disiasati dengan dibuatkan pagar bambu sederhana sebagai pegangan.

Rasa lelah perjalanan akan terbayar sesampainya di puncak Halinjuangan. Kita akan disuguhkan pemandangan alam pegunungan.

Apalagi dipuncak dibuatkan tempat berupa rakitan bambu yang menyerupai jukung. Terinspirasi dari jurang tembelan di Yogyakarta. Dari tempat inilah akan didapatkan suasana yang indah untuk berpose.

Selain itu, tidak jauh dari lokasi ini sekitar 50 meter ada wisata Batu Tatungau, pondok cinta dan pondok dua hati.

7. Berendam Air Panas di Desa Murung HST

Kolam air panas Desa Murung HST
Kolam air panas Desa Murung HST (banjarmasinpost.co.id)

Wisata kolam pemandian air panas terletak di Desa Murung B Kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah.

Ada empat kolam, yang sejak dibangun pemerintah daerah, tersedia di lokasi tersebut.

Kolam tersebut, pertama untuk pendinginan, kolam kedua untuk pengobatan, dan kolam ke empat untuk pembersihan.

Tiga kolam tersebut punya kadar panas yang berbeda. Sedangkan kolam ke empat, biasanya juga untuk pembersihan, yang letaknya terpisah dari tiga kolam lainnya. Sayang, objek wisata itu tak tertata rapi.

Tak ada taman, atau tanaman hias di sekitarnya, sehingga terkesan masih di tengah hutan.

Informasi yang diperoleh dari warga sekitrar, tingkat kunjungan ke lokasi objek wisata itu pun, kian hari kian menurun.

Apalagi, memasuki wisata tersebut ada tiga pungutan, dua pungutan di antaranya tanpa karcis, sehingga dianggap pengujung pungutan liar.

8. Meniti jembatan ekstrem penghubung dua bukit: Jembatan Gantung Desa Nateh

Jembatan Gantung Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah
Jembatan Gantung Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah ()

Jembatan di Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur, Kabupaten Hulu Sungai Tengah jadi tujuan wisata anak muda.

Dua bukit, yang jaraknya cukup berjauhan, dihubungkan dengan sebuah jembatan gantung yang desainya begitu eksotis.

Dilansir indonesia.tripcanvas.co.id, pemandangan indah khas perbukitan hijau dan sungai dengan aliran air yang menyegarkan dan juga bebatuan besar panorama yang tiada duanya.

Dari Kota Barabai menuju Desa Nateh berjarak sekitar 30-35 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 45 menit sampai 1 jam.

9. Goa Singa Batu Bini HST

Goa Singa
Goa Singa ()

Objek wisata Goa Singa yang berada di bawah bukit batu bini Desa Batu Bini Kecamatan Padang Batung, Hulu Sungai Selatan (HSS) cukup menjadi daya tarik para wisatawan.

Akses yang mudah dan berada di pinggir jalan utama menuju objek wisata Loksadomenjadi tempat ini mudah untuk dikunjungi.

Namun, cukup disayangkan. Banyak tangan-tangan para pengunjung yang jahil dengan mencoret dinding goa dengan berbagai tulisan.

Sejarah adanya Goa Singa sendiri cukup sulit untuk dicari referensinya. Dalam goa ini terdapat beberapa patung yang berbentuk singa, kera dan manusia.

Di sejumlah dinding goa juga terdapat ukiran dari batu tentang berbagai jenis hewan. Bahkan, sebelumnya juga ada tempat tidur dari batu.

Pengelola goa singa ini mengatakan bahwa pihaknya tidak mengatahui persis kisah asal mula adanya goa singa.

Namun, berdasarkan cerita turun temurun bahwa kisah goa singa itu terkait dengan kisah batu bini dan batu laki. Kisahnya seperti kisah maling kundang.

Legenda ini cukup terkenal di KabupatenHulu Sungai Selatan. Legenda ini menceritakan tentang Diang Ingsun dan Angui anaknya. Ceritanya sama seperti Malin Kundang menceritakan anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Masyarakat di sana percaya bahwa gunung batu bini dan batu laki merupakan kapal angui dan istrinya yang berubah menjadi batu karena dikutuk oleh Diang Insun, hingga terbagi jadi dua yaitu batu bini dan batu laki.

Kedua batu ini terpisah oleh sungai yang mengalir yang saat ini dikenal dengan sungai amandit. Sementara gua batu bini yang juga dikenal goa singa, terdapat kera dan singa yang berubah jadi batu.

10. Menikmati sunset dan terumbu karang Pantai Birahbirahan

Pulau Birah Birahan
Pulau Birah Birahan (borneo wisata kalimantan)

Di pulau Birahbirahan pengunjung bisa menikmati alam bawah laut.

Untuk menikmati alam bawah laut, Pantai Birahbirahan memiliki kondisi air yang ideal. Untuk snorkeling dan diving, kondisi airnya jernih, dan terumbu karangnya juga variatif serta indah seperti dilansir indonesia.tripcamvas.co.id.

Ingin menyalurkan hobi memancing? Boleh juga. Ada beragam ikan kecil yang bisa Anda dapatkan, atau bahkan hiu dan ikan pari. Jika beruntung, Anda juga bisa menyaksikan lumba-lumba, lho!

Sementara untuk menikmati panoramasunset, Anda tak perlu harus meninggalkan pantai karena lokasinya pas banget untuk mendapatkan sensasinya. Top banget!

Lokasi: Pulau Laut Kepulauan, Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan.

Dari pusat Kota Baru, perjalanan dilanjutkan menuju Desa Tanjung Lalak, Kecamatan Pulau Laut Selatan selama empat-lima jam, hingga Dermaga Kenyamukan. Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa perahu nelayan selama delapan jam dengan harga sewa Rp800.000 per perahu dengan kapasitas 25 orang.

(banjarmasinpost.co.id/restudia)

Penulis: Restudia
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved