Home »

Kolom

» Tajuk

Tajuk

Menyandingkan Honor dengan Sembako

Dalam dua tahun terakhir, honor jasa pelayanan (jaspel) yang diterima tenaga medis setiap bulannya berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Menyandingkan Honor dengan Sembako
istimewa
RS dr H Andi Abdurrahman Noor 

KELUHAN itu keluar juga dari mulut para tenaga medis mulai dokter, perawat, bidan hingga apoteker di lingkup RSUD H Andi Abdurrahman Noor Tanahbumbu. Keluhan itu tentang ketidakadilan.

Dalam dua tahun terakhir, honor jasa pelayanan (jaspel) yang diterima tenaga medis setiap bulannya berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Mereka hanya menerima ratusan ribu rupiah. Sementara honor pihak manajeman lebih besar dari itu.

Sebelumnya, honor jaspel yang diterima para tenaga medis di atas Rp 1 juta, bahkan bisa mencapai Rp 2 juta. Tapi sekarang hanya sekitar Rp 400 ribu, bahkan ada nilainya yang lebih kecil. Mirisnya seorang dokter hanya menerima Rp 500 ribu. Bila dikaitkan dengan harga sembilan bahan pokok (sembako) sekarang, honor jaspel diterima para tenaga medis itu memang sangat jauh dari kelayakan. Ekstremnya, saat ini nilai uang dari Rp 500 sampai Rp 500 ribu sudah tidak ada ‘artinya’, karena tidak bisa lagi mengimbangi kenaikan harga sembako.

Berdasarkan pantauan Banjarmasin Post di lapangan, 3 Juli 2017 lalu, untuk harga daging sapi dan ayam mengalami kenaikan. Daging sapi has naik dari Rp 140 ribu menjadi Rp 150 ribu per kilogramnya, daging sapi rendang naik dari Rp 130 ribu menjadi Rp 135 ribu per kilogramnya, ayam broiler dari Rp 28 ribu naik menjadi Rp 30 ribu, ayam kampung dari Rp 65 ribu naik menjadi Rp 70 ribu per kilogramnya.

Nah, untuk pemenuhan daging sapi dan ayam selama sebulan saja uang Rp 500 ribu itu tidak cukup. Lantas bagaimana dengan memenuhi kebutuhan sembako yang lainnya juga mengalami kenaikkan? Tidak ada cara lain bagi para medis selain menggugat honor jaspel agar kembali dinaikan, minimal sama seperti yang mereka terima sebelumnya.

Bukan bermaksud membela pihak rumah sakit, pihak manajeman juga tidak bisa disalahkan bila tidak bisa menaikan honor jaspel. Mereka mencairkan honor jaspel itu sesuai aturan, yakni mengacu Perbup 2014.

Mengutip penjelasan Kabag TU RSUD Andi Abdurrahman, Mahrudin, honor jaspel yang diterima tenaga medis itu sudah sesuai dengan rumusan yang ada dan sesuai indeksnya. Perhitungan itu dilakukan oleh konsultan dan bukan dari pihak rumah sakit (Berita Utama BPost Edisi Selasa, 19/6/2018).

Kenapa menurun? Ini terkait pendapatan rumah sakit menurun per bulannya. Menurut Kepala Seksi Pelayanan Medik, dr Made Haryadi Thenaya, itu terjadi karena mulai 2014 pasien menggunakan jamkesda dibayarkan tarif umum, dan sejak 2014 beralih lagi ke BPJS. Kemungkinan pendapatan kembali akan mengalami penurunan terutama di 2019 (Berita Utama BPost Edisi Selasa, 19/6/2018).

Dalam kondisi yang demikian, baiknya pihak tenaga medis dan pihak manajemen rumah sakit, harus tetap profesional. Artinya kedua belah pihak harus tetap memberikan layanan terbaiknya kepada masyarakat.

Selain itu, kedua belah pihak bisa kembali duduk satu meja untuk mencari jalan tengah menyandingkan honor jaspel dan harga sembako. Tidak salah kalau masalah ini juga melibatkan anggota dewan. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help