Opini Publik

Ketika Pesantren Menjadi Pilihan Zaman Now

Memang diakui atau tidak, pilihan lembaga pendidikan seseorang sangat dipengaruhi oleh cita-cita anak

Ketika Pesantren Menjadi Pilihan Zaman Now
banjarmasinpost.co.id/hari widodo
Ribuan santri Pondok Pesantren bersama dengan pimpinan Darussalam memadati halaman Ponpes setempat, Senin (15/9/2014) malam. 

Oleh: Muhammad Nur MPd, Guru MTsN 2 Tanah Laut Konsultan Pesantren Nurul Ma’ad Banjarbaru

PENERIMAAN peserta didik baru (PPDB) online dengan sistem zonasi pada sekolah umum kembali akan diterapkan, karena dianggap dapat menciptakan pemerataan mutu pendidikan. Sementara para orangtua dari calon peserta didik baru tentu juga memiliki pertimbangan lembaga pendidikan pilihannya, apakah memilih sekolah, madrasah atau pesantren (boarding school) yang menjadi impian.

Memang diakui atau tidak, pilihan lembaga pendidikan seseorang sangat dipengaruhi oleh cita-cita anak, orientasinya serta informasi yang diterima sebelumnya. Pertimbangan lainnya supaya anak siap bersaing di zaman yang semakin kebablasan, tidak termarginalkan oleh kemajuan globalisasi, informasi dan teknologi. Disini anak sejatinya dijauhkan dari hal-hal negatif modernisme, diantaranya trend individualisme yang semakin menjangkit.

Arah Generasi Zaman Now
Generasi zaman now membutuhkan pendidikan paripurna dan strategis berbasis nilai-nilai religius untuk proses kawah candradimuka mereka sehingga kedepannya output yang dihasilkan bukan saja menjadi solusi terhadap rendahnya mutu pendidikan, tetapi juga sekaligus memberikan bekal pendidikan kecakapan hidup (life skill) sekaligus nilai-nilai religius (spiritual skill). Sayangnya selama ini mayoritas proses pendidikan cenderung sekuler dimana sekolah-sekolah umum masih belum jelas dalam menerapkan pendidikan karakter. Dampaknya kesadaran dan praktik nilai-nilai religius jauh dari kondisi ideal. Belum lagi ancaman nyata yang berasal dari budaya luar berupa pop culture yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Mencermati tujuan pendidikan nasional sebagaimana termaktub dalam UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidikan bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Maka jelaslah bahwa tujuan pendidikan nasional tersebut lebih mengutamakan nilai religius dan akhlak mulia daripada nilai kebenaran ilmiah dan hal lainnya. Negara kita memiliki keinginan yang luhur untuk mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki basis karakter atau akhlak mulia yang kuat.

Urgensi Pesantren
Salah satu jenis lembaga pendidikan yang sangat penting dalam pengembangan nilai-nilai akhlak mulia adalah pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan swasta yang berswakarsa dan berswakarya dalam menyelenggarakan pendidikan. Misi mulianya lebih bercorak ethic religious dengan orientasi pembentukan kepribadian anak didik baik dari segi pembinaan agama (diniyyah tahzibiyyah) dan pembinaan jasad, akal dan jiwa (khalqiyyah) Pesantren sangat potensial untuk dikembangkan menjadi pusat pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju terwujudnya kecerdasan dan pembinaan moralitas dan karakter anak bangsa.
Klasifikasi pesantren ada dua, yaitu pesantren tradisional dan pesantren modern. Sistem pendidikan pesantren tradisional (sistem salafi) yakni sistem yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik sebagai inti pendidikan. Sementara pesantren modern merupakan sistem pendidikan yang mengintegrasikan secara penuh sistem tradisional dan sistem sekolah formal, seperti madrasah dengan pengembangan bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa keseharian.

Masih ada yang memandang sebelah mata akan peranan pesantren, kendati faktanya banyak tokoh, pejabat bahkan pemimpin bangsa ini yang merupakan jebolan pesantren. Pesantren dianggap konservatif, tidak terbuka terhadap perubahan, mengabaikan ilmu pengetahuan dan teknologi serta hanya berkutat dalam masalah kajian keagamaan saja. Pesantren diposisikan sebagai menara gading yang melepaskan diri dari masalah-masalah sosial. Pesantren diremehkan sebagai lembaga pendidikan yang tidak menjanjikan lapangan pekerjaan dan lulusannya hanya untuk menjadi ustadz. Tragisnya lagi pesantren malah pernah dituduh sebagai sarang teroris.

Mainstream keilmuan pesantren terdiri dari tauhid, fiqih dan tasawuf yang sangat menganjurkan umat untuk berbuat kebajikan, kasih sayang, kerja sama dan tolong-menolong. Sedini mungkin selalu menghindari konflik, konfrontasi, intrik dan hal-hal lainnya. Dari sisi pembinaan karakter individual, pesantren mengajarkan sikap hemat dan hidup sederhana. Kehidupan berasrama bagi para santri merupakan proses pengembangan beragam nila-nilai, sikap dan pola-pola tindakan. Kemajuan para santri ditopan dengan nilai-nilai diantaranya: kedisiplinan, pemanfaatan waktu, bekerjasama, adaptasi dengan lingkungan, kemandirian, partisipasi aktif, keharmonisan, toleransi, integrasi dan interaksi. Nilai-nilai tersebut dikembangkan dalam proses belajar-mengajar, kegiatan ibadah, dan berbagai bentuk aktivitas keseharian santri. Kehidupan dalam asrama di pesantren merupakan miniatur dari kehidupan masyarakat yang sesungguhnya.

Kesuksesan membina warga pesantren tercermin dari pengamalan tiga ciri dasar bangunan pesantren yaitu: ta’awun (tolong-menolong), takaful (saling menanggung), dan tadhomun (memiliki solidaritas). Aplikasi dari proses tersebut selalu menganjurkan untuk mengajak orang berpegang teguh kepada kebenaran serta saling memberi nasihat untuk menghindari kebatilan. Hal ini juga menjadi kurikulum tersebunyi (hidden curriculum) yang berpengaruh positif terhadap peningkatan akhlak mulia para santri. Pikiran, ucapan, dan perbuatan yang tercermin dari tindakan setiap figur panutan di lingkungan pesantren merupakan mutiara kehidupan nyata yang dipelajari dan menjadi suri tauladan. Disinilah kesadaran nilai-nilai akhlak mulia dan kemajuan intelektual para santri dapat berkembang lebih cepat dan menjadi kebiasaan karena diaplikasikan dalam keseharian serta terkait langsung dengan konteksnya. Wallahua’lam.

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved