Viral, Pendaki Wanita Terkena Hipotermia Usai Ditinggal Teman Pendaki Lain, Begini Klarifikasinya

Video seorang pendaki yang menderita hipotermia usai ditinggal teman pendaki lainnya viral di dunia maya

Viral, Pendaki Wanita Terkena Hipotermia Usai Ditinggal Teman Pendaki Lain, Begini Klarifikasinya
instagram
Video seorang pendaki yang menderita hipotermia usai ditinggal teman pendaki lainnya viral di dunia maya 

Hipotermia akibat kelelahan. Pada kondisi yang terlalu lemah, tubuh tidak akan mampu menghasilkan panas, sehingga orang tersebut akan jatuh pada kondisi hipotermia.

Hipotermia kronis. Jenis ini terjadi bila panas tubuh menghilang secara perlahan. Kondisi ini umum terjadi pada lansia yang tinggal di ruangan dengan kehangatan yang kurang, atau pada tunawisma yang tidur di luar ruangan.

Faktor Risiko Hipotermia

Hipotermia dapat terjadi pada siapa saja, namun ada sejumlah faktor yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini. Faktor-faktor tersebut meliputi:

Usia – bayi dan manula. Kemampuan untuk mengendalikan temperatur tubuh yang belum berkembang dengan sempurna pada bayi dan yang menurun pada manula. Anak-anak juga terkadang mengabaikan udara dingin karena terlalu asyik bermain.

Minuman keras dan obat-obatan terlarang. Alkohol dan obat-obatan terlarang dapat melebarkan pembuluh darah sehingga mempercepat dan meningkatkan pelepasan panas tubuh dari permukaan kulit.

Kondisi mabuk atau teler dapat membuat seseorang tidak menyadari situasi dan cuaca dingin di sekitarnya.Penyakit yang memengaruhi memori, misalnya penyakit Alzheimer.

Pengidap penyakit ini biasanya tidak sadar bahwa mereka sedang kedinginan atau tidak paham apa yang harus dilakukan.

Pengaruh penyakit tertentu. Ada beberapa penyakit yang dapat memengaruhi mekanisme pengendali suhu tubuh, misalnya anoreksia nervosa, stroke, dan hipotiroidisme.

Obat-obatan tertentu, misalnya antidepresan, sedatif, serta analgesik opiat. Obat-obatan ini dapat memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengendalikan temperatur.

Orang yang menghabiskan waktu lama di tempat yang dingin, misalnya pendaki gunung atau tunawisma.

Gejala-gejala Hipotermia

Gejala hipotermia sangat beragam dan terkadang sulit dikenali. Gejala yang muncul tergantung pada seberapa rendah suhu tubuh pengidapnya.

Bayi yang mengalami hipotermia bisa terlihat sehat, tapi kulitnya akan terasa dingin dan terlihat kemerahan. Bayi juga cenderung sangat diam, terlihat lemas, dan tidak mau menyusu atau makan.

Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya.

Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala yang meliputi menggigil yang disertai rasa lelah, lemas, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.

Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32°C, tubuh pengidap hipotermia biasanya tidak bisa memicu respons menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah.

Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah (suhu tubuh 28-32°C) akan mengalami gejala-gejala berupa:

Mengantuk atau lemas.

Bicara tidak jelas atau bergumam.

Linglung dan bingung.

Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian meski sedang kedinginan.

Sulit bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.

Napas yang pelan dan pendek.

Tingkat kesadaran yang terus menurun.

Apabila tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan berpotensi memicu hiportemia yang parah dengan suhu tubuh 28°C ke bawah.

Kondisi ini ditandai dengan gejala-gejala berikut:

Pingsan.

Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.

Pupil mata yang melebar.

Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.

Jika anak atau ada anggota keluarga Anda yang mengalami gejala-gejala tersebut, bawalah secepatnya ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan darurat.

Penulis: Restudia
Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved