Esai Zulfaisal Putera: Gawang

Sebuah pesta empat tahunan pertandingan sepak bola kelas dunia ini benar-benar telah mengubah dan mendominasi perhatian siapa pun.

Esai Zulfaisal Putera: Gawang
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.OD, BANJARMASIN - Khotbah Idulfitri 1439 H di Masjid As Sajadah, Kompleks Kenanga, Jalan Jahri Saleh, pada lebaran kemarin masih membekas diingatan saya.

Bukan tentang kenangan meninggalkan Ramadan, bukan pula memaknai Idulfitri, tapi ada analogi menarik yang jarang diutarakan seorang khatib.

Kalimatnya kurang lebih demikian; “Ramadan 1439 H dimulai 17 Mei 2019. Tanggal 17 Mei mengingatkan kita pada nama stadion di Banjarmasin, tempat pertandingan sepak bola. Sementara, akhir Ramadan tepat malam Idulfitri, dimulai sebuah kejuaraan sepak bola Piala Dunia 2018.”

Analogi itu kesannya mengada-ada, mengaitkan dua hal yang kebetulan terjadi mengapit kehadiran bulan suci Ramadan. Namun, keterampilan beretorika penceramah tersebut bikin jemaah tertarik menyimak. Apalagi bila isi khotbah ditopang argumen rasional dan mengurai makna yang lebih mendalam.

Kenyataannya, pasca-Ramadan dan memasuki Syawal 1439 H (2018) ini umat Islam yang merayakan hari kemenangan dan warga dunia lainnya langsung dibekap oleh gempita Piala Dunia 2018 di Rusia.

Sebuah pesta empat tahunan pertandingan sepak bola kelas dunia ini benar-benar telah mengubah dan mendominasi perhatian siapa pun.

Saya bukan maniak sepak bola. Tersebab takmaniak itulah pengetahuan tentang pertanding sepak bola sangat minim. Kalau juga tahu nama-nama kesebelasan dan pemain sepak bola kelas dunia, itu cuma karena keterkenalan grup dan pemain itu sebagai juara dunia dan top scorer. Selebihnya, saya menyaksikan ketika ingin saja, seperti saat Piala Dunia kali ini.

Menyaksikan pertandingan sepak bola sesungguhnya seperti menyaksikan laga kehidupan kita sendiri. Ada semangat, kebersamaan, kesendirian, perlawanan, pertahanan, siasat, kecerdasan, dan kebodohan yang dimunculkan. Ada senyum, tawa lebar, kekesalan, kegelisahan, teriakan, gumam, bahkan tangis, terungkap begitu saja tanpa bisa ditahan.

Dalam buku “Sepak Bola Seribu Tafsir” (2014), kumpulan esai sepak bola karya Eddward Samadyo Kennedy, jurnalis muda Indonesia, menyebutkan sepak bola selalu mengandung ide dan nilai. Setiap tindakan dan kejadian dalam pertandingan pasti ada dasar. Ada ide yang mendorongnya untuk terjadi. Semua itu memunculkan nilai-nilai tersendiri.

Kennedy mencontohkan filosofi totaal voetbal Rinus Michles yang secara konsep adalah soal penafsiran ruang. Bagaimana membuat ruang (lapangan) menjadi luas bagi sebuah tim dan sebaliknya menjadi sempit bagi tim lawan, adalah soal bagaimana pemain melakukan pergerakan yang memungkinkan perbedaan tafsir bagi dua tim berbeda itu menjadi mungkin.

Apa yang membuat sepak bola itu menjadi hidup dan penuh filosofi? Iya, karena ada lawan tanding. Filsuf eksistensialisme Prancis, Jean-Paul Sartre, mengatakan sepak bola menjadi kompleks karena kehadiran tim lawan.

Kehadiran lawan tanding membuat tim sepak bola mana pun di dunia ini jadi harus berjuang mati-matian, dari persiapan sampai berlaga.

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera berjudul Gawang. Selengkapnya baca di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (24/06/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help