Opini Publik

Aktualisasi Madihin dan Lawak (Mengenang John Tralala)

Almarhum yang lahir di Lampihong HSU 13 Juni 1959, meninggal di RS Polri Hoegeng Imam Santoso Banjarmasin karena sakit jantung

Aktualisasi Madihin dan Lawak (Mengenang John Tralala)
banjarmasinpost.co.id/khairil rahim
Jhon Tralala 

Seni tradisi yang dilakoni dan menjadi ikon utama bagi John Tralala dan grupnya tentu madihin. Menurut Abdul Djebar Hapip, madihin adalah kesenian khas Kalimantan Selatan, bersyair dan berpantun diiringi pukulan rebana. Syair atau pantun dalam madihin itu cenderung bersajak terus aa/aa, namun isi syair itu lebih mengandung lelucon atau kocak dan sindiran dengan diiringi oleh rebana atau terbang dari orang yang membawakan madihin (pemadihin), atau pemain di belakangnya.

Kelebihan lain, madihin ala John Tralala mampu memadukan antara pesan-pesan yang kontekstual dengan humor, sehingga pesannya sampai dan pendengar pun terhibur. Pesan dimaksud ada dalam konteks kehidupan keluarga, pembangunan, sosial keagamaan dan masih banyak lagi. Hal ini tentu tidak mudah, sebab perlu kemampuan berpikir dan berimprovisasi secara cepat dan spontan. Meskipun madihin termasuk seni tradisi, di tangan John ia menjadi modern dan kontekstual dengan dinamika dan perkembangan zaman.

Diteruskan Kader
Meninggalnya John berarti jumlah seniman madihin yang tersisa, yang selama ini sudah sedikit, semakin sedikit lagi. Kita bisa catat beberapa nama yang masih eksis seperti Anang Syahrani dengan madihin yang bernuansa religius, Supiani (Amang Iyan) dan beberapa lainnya.

Pengkaderan seniman madihin khususnya dan seni budaya lain pada umumnya dapat melalui berbagai jalur dan pendekatan. Jalur keluarga seperti John Tralala dan putranya Hendra adalah salah satunya. Tetapi yang lebih penting sebenarnya adalah peranan pemerintah daerah, instansi terkait, lembaga-lembaga dan balai budaya, juga pengusaha.

Selama ini dunia seni budaya masih kurang disentuh secara optimal dengan pendanaan yang maksimal. Bahkan terkesan urusan pengembangan budaya diletakkan jauh dari prioritas. Kita harapkan, ke depan, madihin bisa bersaing dengan kesenian lain yang masuk ke daerah kita, yang bukan asli budaya kita.
Apabila kesenian daerah kita mampu diolah dan dikemas dengan baik dan menyesuaikan dengan tuntutan zaman, kita yakin kesenian daerah akan eksis, bertahan dan berkembang. Terbukti seni madihin yang dulu sempat mau mati, bisa dihidupkan kembali oleh John Tralala. Dengan meninggalnya John Tralala, kita khawatir seni madihin akan redup kembali.

Putra John, Hendra menuturkan akhir-akhir ini, ayahnya sering mengingatkan agar kalau dirinya tiada, madihin harus terus dihidupkan. Jangan sampai madihin berhenti pada dirinya. Melihat ayahnya sehat-sehat saja, Hendra tak ada firasat apa-apa. Setelah ternyata John memang pergi di usia relatif muda, terbukti bahwa pesan John benar adanya.

Usia manusia memang tidak bisa diprediksi. Siapa pun pasti akan meninggalkan dunia, datang dan pergi silih berganti. Setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kalau pengkaderan berjalan, kita yakin, patah akan tumbuh dan hilang akan berganti. Semoga. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved