Mereka Bicara

KH Husin Naparin: Esensi Alquran

Inilah sebenarnya esensi Alquran, ia ingin agar manusia bahagia sepanjang masa, yaitu hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah

KH Husin Naparin: Esensi Alquran
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalsel

Ramadan bulan Alquran telah berlalu, semoga interaksi kita umat beriman dengannya tidak ikut berlalu; semoga pula berkahnya selalu menyertai kita. Bahagia sepanjang masa, adalah merupakan cita-cita dan tujuan setiap manusia.

Inilah sebenarnya esensi Alquran, ia ingin agar manusia bahagia sepanjang masa, yaitu hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah. Karenanya kita disuruh mengenal dan menghormati Alquran, membacanya dengan benar dan menghayati isi kandungannya, serta mengamalkannya dan mendakwahkannya sesuai kemampuan.
Dengan Alquran, manusia terklasifikasi menjadi beberapa golongan.

Pertama, mereka yang mencapai hasanah fid-dunya wa hasanah fil-akhirah, yaitu orang yang beriman akan Alquran dan mengamalkan isinya secara kaffah (total).

Firman Allah SWT “Sesungguhnya Alquran ini memberikaan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh, bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. (QSAl-Isra 9).

Kedua, mereka yang mendapatkan hasanah fid-dunya, tetapi tidak mendapatkan hasanah fil-akhirah, yaitu orang yang tidak beriman kepada Alquran, tetapi tanpa mereka sadari telah mengamalkan nilai-nilai kehidupan duniawi yang diserukan Alquran, seperti giat menuntut ilmu dan meneliti alam, jujur dan disiplin, kerja keras, bersih dan rapi, hormat dan mendahulukan orang lain, suka menolong, effisen waktu, sehingga muncul motto time is money. Hal ini kebanyakan berjalan di dunia Barat.

Syekh Muhammad Abduh pernah berkata, “Aku melihat Islam di Barat, kendati tidak melihat umatnya.” Firman Allah SWT, “Barang siapa menghendaki kehidupan duniawi, maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki ... (QS al-Isra 18).

Ketiga, mereka yang mendapatkan hasanah fil-akhirah tetapi tidak mendapatkan hasanah fid-dunya. Mereka ini bisa jadi adalah orang yang beriman sendiri, tetapi di dunia merana karena sejumlah faktor, antara lain salah persepsi terhadap dunia, dunia ini adalah bangkai dan biang kejahatan, surga bagi orang kafir dan penjara bagi orang beriman, mereka lupa akan bagian mereka terhadap dunia.

Bisa jadi pula orang beriman sendiri, namun mereka kalah tidak mampu bersaing meraih dunia dengan pihak lain, mereka bodoh tidak tahu bagaimana cara meraih dunia. Atau bisa jadi mereka adalah orang beriman sendiri, yang menjadi korban sistem kekuasaan, mereka diperas dan diperalat, hak-hak mereka dirampas, atau tidak diberi kesempatan untuk maju.

Atau bisa jadi mereka, adalah umat beriman itu sendiri tetapi tidak mengindahkan nilai-nilai duniawi yang diserukan Alquran seperti gemar membaca, bersih dan disiplin, pandai menggunakan waktu dan saling tolong-menolong antarsesama.

Muhammad Asad (politikus, wartawan dan pengarang asal Eropa), memeluk Islam tahun 1926 berkelana di beberapa negeri berpenduduk muslim di Asia dan Afrika, pernah berkata bahwa keterpurukan kehidupan umat Islam adalah karena menjauhi ajaran-ajaran Islam.

Golongan keempat, adalah mereka yang tidak mendapatkan hasanah di dunia dan tidak hasanah di akhirat, yaitu orang yang tidak beriman dan benci kepada orang beriman, kesehariannya sibuk untuk menghancurkan Islam dan umat Islam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help