Esai Zulfaisal Putera: “Raja, Aa nih”

Saat itu, nama John yang bernama asli Yusran Effendi ini masih di bawah popularitas Amang Ijul.

Esai Zulfaisal Putera: “Raja, Aa nih”
istimewa
Zulfaisal Putera 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Saya yakin tak ada orang yang bercita-cita menjadi pelawak. Meski tiap orang punya bakat melucu, tapi tak pernah terpikirkan untuk menjadikan lelucon sebagai bahan baku pekerjaan.

Hal ini juga diakui banyak pelawak negeri ini yang silih berganti mengisi dunia hiburan selama ini. Kalau akhirnya benar-benar menjadi pelawak, bisa jadi itu sebuah ‘kecelakaan’ yang beruntung.

Namun demikian, masih ada juga yang mengganggap melawak bukan sebuah profesi. Melawak hanya sampingan, dilakukan selagi masih ada waktu dan dibutuhkan.

Mereka masih konsentrasi pada pekerjaan lain yang dianggap lebih nyata menghasilkan duit daripada melawak. Hanya orang yang percaya diri tinggi saja mampu menjadikan melawak sebagai profesi yang serius.

Itu juga mungkin sebabnya tak banyak orang berprofesi sebagai pelawak. Dibanding profesi seni lainnya, jumlah pelawak masih lebih sedikit. Publik masih bisa mengenal sosok dan menghafal nama pelawak tinimbang penyanyi, misalnya.

Walau dunia perlawakan mulai variatif, seperti munculnya stand up comedy, tetapi yang populer tetap juga seputar itu itu saja.

Begitu pun dunia lawak di Banua, khususnya di Banjarmasin. Seingat saya, sepanjang usia sampai saat ini, hanya mengenal tiga nama yang saya anggap sebagai pelawak Banua.

Pertama, Charlie, demikian orang sekampung saya di Kelayan menyebutnya; Kedua adalah Amang Ijul, kesehariannya sebagai penyiar radio Refalado; dan Ketiga adalah John Tra La La.

Dari ketiga nama itu, John Tra La La yang sangat akrab dalam kehidupan selanjutnya. Urang Banjar mengenal namanya ketika ia masih menjadi pendamping Amang Ijul siaran di radio di Kertakbaru tembus Pasar Rambai.

Saat itu, nama John yang bernama asli Yusran Effendi ini masih di bawah popularitas Amang Ijul. John mulai lebih dikenal publik setelah Amang Ijul wafat.

Saya kenal dekat dengan John ketika sama-sama mengikuti Lomba Lawak Tingkat Nasional di Banjarmasin yang diselenggarakan Paguyuban Pelawak Indonesia tahun 1984.

Saat itu, John ikut kategori Lawak Tunggal dan saya ikut kategori Kelompok bersama teman-teman di Bekantan Grup. John berhasil menjadi juara I dan itu menjadi pintu gerbang popularitasnya selanjutnya.

Lawakan John terbilang standar. Ada gaya slapstick, plesetan, superioritas-inferioritas, dan guyonan. Dengan menggerakan postur tubuhnya yang pendek dan mimik wajah yang imut saja, John bisa memancing tawa.

Begitu pula cerita pengalaman keseharian yang lucu dan kemampuannya menguasai dialek berbagai bahasa. Sesekali menjurus ke humor berbau porno. 

Inilah penggalan esai Zulfaisal Putera. Selengkapnya baca di koran Banjarmasin Post edisi, Minggu (01/07/2018).

Editor: Idda Royani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help