B Focus Urban Life

Penyuluh Agama Temukan Ini dari Calon Pengantin

KETUA Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kota Banjarmasin, Asfiani Norhasani, LC, berpendapat seseorang bisa membaca Alquran

Penyuluh Agama Temukan Ini dari Calon Pengantin
banjarmasinpost.co.id
Ilustrasi pasangan menikah 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - KETUA Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Kota Banjarmasin, Asfiani Norhasani, LC, berpendapat seseorang bisa membaca Alquran apabila sudah mampu membaca satu ayat atau kalimat di Alquran secara tuntas.

Meskipun pada praktiknya, menurut penyuluh perkawinan di KUA Banjarmasin Tengah tersebut, kemampuan tersebut ternyata masih sedikit ditemuinya terhadap para calon pengantin.

" Kebetulan saya juga guru mengaji, jadi kalau hanya membaca per kata, itu masih belum. Lain halnya kalau bisa membaca tuntas satu kalimat atau beberapa ayat," jelas Asfiani.

Baca: Pemko Banjarmasin Punya Perda Tentang Wajib Baca Tulis Alquran, Tapi Kenyataannya Malah Begini

Lanjut Asfiani, ada beberapa tipe calon pengantin yang ditemuinya saat melewati tes mengaji.

Di antaranya, mereka yang sudah khatam namun jarang mengaji, tidak khatam jarang mengaji dan bahkan tidak pernah sama sekali belajar mengaji.

"Bahkan pernah, saat petugas meminta seorang calon pengantin membaca surah yang mudah, sempat tertunduk. Bisa melanjutkan, setelah disebutkan awal surahnya," cerita Asfiani.

Baca: Ini Link Pengumuman Hasil SBMPTN 2018 Besok: http://www.sbmptn.ac.id./, Bisa Buka di Hp Lho

Sehingga, bila dirinya pernah mendengar calon pengantin tidak bisa mengaji, hal itu tidak menutup kemungkinan.

Dirinya pun sering menemui.

"Pernah dari 20 calon pengantin yang kami tanya tentang khatam Alquran, hanya satu orang. Tidak hanya itu, ada yang mengaku sudah bisa, tapi setelah disuruh membaca, alasannya sudah lama tidak mengaji. Tapi, kami pun tidak bisa memaksa," jelasnya.

Baca: Raffi Ahmad Ditolak Nagita Slavina untuk Jalani Rumah Tangga Sehidup Semati, Karena Ayu Ting Ting?

Lebih lanjut, Asfiani juga mengatakan, Pemerintah Kota Banjarmasin sejatinya sudah banyak mengeluarkan program yang bisa menunjang Perda Nomor 4 Tahun 2010 tersebut.

Namun dari beberapa program tersebut, kini pelaksanaannya masih dianggap kurang.

"Di antaranya, Tempat Pendidikan Alquran atau TPA. Tapi kalau bisa, namanya jangan TPA lagi karena kesannya lebih untuk anak-anak. Mungkin bisa diganti Majelis Alquran atau semacamnya, sehingga masyarakat pun banyak yang belajar mengaji," jelasnya.

Selain pemerintah, peran panitia atau pengurus masjid dalam mencetak masyarakat agar mampu membaca Alquran, sebetulnya juga sangat diperlukan.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help