Fikrah

FIKRAH: Bahagia Dunia Akhirat

Pertama, orang itu dapat menggapai iman yang istiqamah (mantap), iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta tuntutan iman lainnya

FIKRAH: Bahagia Dunia Akhirat
Kaltrabu
KH Husin Naparin 

OLEH: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

BAHAGIA sepanjang masa yang menjadi dambaan setiap manusia dalam kehidupan ini, menurut bahasa Alquran adalah orang itu mendapatkan hasanah fid-dunya dan hasanah fil-akhirah (kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat), menurut para mufassirun masing-masing ada empat macam.

Adapun kebaikan dunia, yaitu:
Pertama, orang itu dapat menggapai iman yang istiqamah (mantap), iman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta tuntutan iman lainnya, umpamanya seperti disabdakan oleh Nabi SAW, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya hendaklah ia berkata baik atau (kalau tidak bisa hendaklah ia) diam.” (HR Bukhari-Muslim).

Kedua, orang itu sehat jasmani dan afiat rohani (sehat lahir dan batin).

Ketiga, orang itu mempunyai rezeki yang cukup untuk keperluan hidupnya dan tangungannya.

Keempat, orang itu memiliki pasangan hidup (istri atau suami) dan anak keturunan yang menyenangkan (qurratu a’yun).

Sedangkan empat macam kebaikan akhirat:
Pertama, selamatnya seseorang menghadapi huru-hara kiamat, baik kiamat parsial ketika mengalami sakratal maut, atau ketika menghadapi kiamat hakiki (hancurnya alam semesta).

Kedua, mudahnya seseorang menghadapi sidang pengadilan Allah SWT di padang mahsyar.

Ketiga, selamatnya seseorang meniti titian (shirath) menuju dan masuk surga.

Keempat, seseorang (sebagai penghuni surga yang kekal abadi) dapat memandang wajah Allah SWT.

Firman-Nya menyebutkan, wujuuhuyyauma’idzinnaadhirah ilaa rabbihaa naazhirah, artinya, “wajah-wajah (penghuni surga) pada hari itu berseri-seri, kepada Tuhannyalah mereka melihat”(QS Al-Qiyaamah 22-23). (catatan, orang yang melihat berada di dalam surga, tetapi Tuhan Allah tidak bertempat, wallahu’alam).

Inilah final-gool yang harus dicapai seorang muslim-mukmin dalam hidupannya. Karena sulit, kepadanya diajarkan doa yang bukan sekadar doa tetapi acuan, bahwa ke arah itu aktivitas yang harus dilakoni dalam kondisi apapun, yaitu:

Rabanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil-aakhirati hasanah wa qinaa azdabannaar, artinya, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.”
Kita dilarang oleh baginda Rasul meminta kebaikan dunia saja, atau kebaikan akhirat saja, tetapi keduanya. Doa ini terbanyak diungkapkan oleh beliau kepada Allah dan para sahabat.

Doa ini dijadikan penutup setiap doa yang beragam dipanjatkan, bahkan jika berdoa dengan doa ini sudahlah cukup, karena telah mencakup segalanya, sehingga ada yang menyebutnya doa sapu jagat.
Masyarakat umumpun paham, bila doa panjang sudah sampai pada kalimat rabbanaa aatina, berarti doa akan berakhir.

Ada cerita, di sebuah kampung sewaktu berbuka puasa bersama, seorang tukang doa berdoa sudah sampai kalimat ini, tetapi mengulang-ulangnya bahkan dengan suara keras padahal waktu berbuka sudah tiba.

Tamu undangan dan tuan rumah heran. Setelah diperhatikan doa itu, ternyata terselip kata rabbanaa aatinya ... Tuan rumah paham, bahwa si tukang doa ingin atinya (hati ayam), rupanya ia hanya kebagian halarnya (sayap). Dengan sigap tuan rumah menyuguhkan sepiring ati ayam goreng di hadapannya; melihat hal itu ia pun segera menutup doa washallalahu. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved