Tajuk

Pilih Ambulans atau Taksi Online

Keluarga pasien atau pun keluarga orang yang meninggal dunia saat ini justru harus mengorder taksi online guna membawa jenazah

Pilih Ambulans atau Taksi Online
Kompas.com
Ilustrasi taksi online 

FAKTA mengejutkan sekaligus membuat miris hati kini sedang terjadi di Banua. Bagaimana tidak, mahalnya biaya atau tarif ambulans membuat orang yang sedang kesusahan diharuskan mengeluarkan uang tambahan.

Keluarga pasien atau pun keluarga orang yang meninggal dunia saat ini justru harus mengorder taksi online guna membawa jenazah keluarganya menuju ke rumah duka.

Melihat kondisi ini, kita teringat pada peristiwa serupa sekitar 30 tahun lalu. Sebuah peristiwa yag terjadi jauh sebelum taksi online ada di muka bumi ini.

Pernah terjadi sebuah peristiwa menggores hati ketika seorang warga harus membawa jenazah temannya yang meninggal menggunakan sebuah sepeda motor. Jenazah tersebut didudukkan di bagian belakang jok sepeda motornya. Sementara, agar jenazah itu tidak jatuh selama perjalanan, diikatkan selembar kain sarung, atau orang Banjar bilang tapih bahalai.

Jenazah tersebut masih lengkap mengenakan sepatu, celana panjang dan baju kaus. Menempuh perjalanan dari sebuah lokasi tambang ke kediamannya yang berjarak lebih dari 100 kilometer. Hal ini terjadi karena tidak adanya ambulans yang bisa digunakan ataupun biaya ambulans yang tergolong mahal.

Saat ini, kondisi berulang. Namun, bedanya saat ini ada taksi atau angkutan yang bisa dipesan secara online. Dan ironisnnya taksi online sejatinya bukanlah untuk mengangkut jenazah atau orang sakit.
Menggunakan jasa angkutan atau taksi online ini memang juga harus mengeluarkan biaya, namun dirasa lebih mudah dan murah.

Persoalan yang bisa dilihat di sini tidak hanya dari sisi mahalnya tarif ambulans atau mobil jenazah yang disediakan sebuah rumah sakit, namun juga kepedulian semua pihak dalam mengatasi permasalahan itu.

Pemerintah harus bisa mengaji ulang hingga merevisi tarif ambulans atau mobil jenazah yang diberlakukan. Tidak hanya sebatas pada pemikiran pendapatan tetapi juga kepada kebutuhan masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi perekonomian saat ini.

Setiap pemerintah daerah juga bisa membantu dengan menyediakan minimal satu unit ambulans per desa atau per puskesmas yag bisa digunakan masyarakat. Tentunya dengan catatan tarif yang dibebankan bisa terjangkau dan tak kalah penting ada petugasnya. Sebab, dari beberapa kasus terjadi di sejumlah kabupaten, mobil ambulans ada tapi petugasnya tidak ada di puskesmas.

Keterlibatan pihak lain yang bergerak di bidang sosial juga sangat diperlukan. Semisal dengan menyediakan ambulans yang bisa digunakan masyarakat, jika mungkin secara gratis. Sebagai contoh, sejumlah rukun tetangga (RT) saja sudah bisa membeli dan mengoperasikan mobil ambulans yang bisa digunakan warganya guna keperluan pengurusan jenazah warga yang sedang ditimpa musibah.

Pengoperasian ambulans oleh masyarakat ini bisa dibantu pemerintah atau pihak swasta dengan cara menghibahkan mobil dinas yang masih laik pakai. Atau mungkin orang-orang kaya di Banua ini ada yang bersedia menyumbangkan mobil ambulans. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved