Opini Publik

Hidup (Bukan) Hanya Urusan Perut

Mayoritas kita berprasangka bahwa uang yang banyak, jabatan elite dan status sosial tinggi merupakan jaminan kebahagian hidup

Hidup (Bukan) Hanya Urusan Perut
THINKSTOCK.COM
keluarga bahagian 

Pribakti B, Dokter RSUD Ulin Banjarmasin

JARGON ini tampaknya sangat mengena sebagian besar manusia modern yang terjebak dalam rutinitas kerja menjemukan dan aktivitas yang itu-itu saja. Secara tak sadar, sedikit demi sedikit otak kita mulai mengerucut karena lama terjebak dengan pemikiran-pemikiran yang sempit. Saat kita tak lagi bisa memaknai hidup dengan hati dan logika maka selamanya kita akan terdampar dalam sebuah kehampaan. Akhirnya , kitapun menjadi manusia modern yang tak peka, tak berperasaan dan antisosial.

Mayoritas kita berprasangka bahwa uang yang banyak, jabatan elite dan status sosial tinggi merupakan jaminan kebahagian hidup. Namun apa yang terjadi? Justru teramat banyak orang - orang kaya, pejabat dan tokoh masyarakat yang hidup dalam kegelisahan, kemandulan, stres, gila dan bahkan sebagian nekat bunuh diri! Jadi, mari kita kembalikan ketitik awal: sebenarnya niat kita hidup seperti apa? Sebab sesungguhnya niat itu punya kekuatan luar biasa . Jika niat itu lurus sering membuahkan diluar dugaan. Sebaliknya niat yang ragu-ragu acap berujung jeblok. Atau, kalaupun dipaksakan, sering berakhir dengan tidak pas di hati dan ujung-ujungnya akan menyalahkan orang lain.

Demikian juga dengan bekerja, bertetangga dan berteman pun sejatinya tak lepas dari niat. Niat untuk mengabdi, menjalin persaudaraan atau apapun. Misalnya, kerjaan tak beres diingatkan sebagai asal-asalan malah sewot, ”Merasa ditikam dari belakang”. Padahal, yang namanya koreksi itu justru cambuk agar kita bisa berlari kencang. Atau kalaupun dimarahi – lantaran yakin kita dalam koridor kebenaran- sambutlah dengan rasa terima kasih. Sebab itu justru membantu ketenangan dan kebijaksanaan kita, tak usah bete.
Harus diakui, di zaman edan ini kita cenderung nikmat untuk berilusi. Puas pada diri sendiri.

Kita mungkin sadar memasuki api yang menyala, tapi belum menyadari akibatnya. Sering kali kesadaran itu muncul belakangan , setelah langkah terbentur kiri-kanan, setelah kayu menjadi arang. Kita pasti pernah mengalami bahwa marah itu tidak nyaman. Nafsu itu hanya akan membuat napas tersendat di leher dan badan serasa lemas. Tubuh jadi loyo, energi terkuras.”Minumlah biar marahmu hilang,” kata orang tua dulu.

Sesungguhnya orang bijaklah yang mampu mengatasi pertentangan antar terang dan gelap, baik dan buruk, kenikmatan dan rasa sakit, penghormatan dan penghinaan , dari dalam diri sendiri. Dia menyadari bahwa hidup yang disebut-sebut sebagai penderitaan terdengar pesimistis , walau itu realitas diubah menjadi sebuah kenikmatan. Tepatnya , kehidupan itu dipenuhi oleh refleksi. Jika bertemu dengan orang yang dipenuhi cinta, maka hati kita pun terefleksikan oleh cinta. Pertemuan dengan orang-orang gelisah hanya melahirkan kegelisahan. Maka, kepada sesama, yang terbaik adalah memberikan cinta, bukan kebencian.

Memang hidup itu warna warni. Orang bijak menulis ”Kadang-kadang orang yang sibuk mengembangkan mental dengan penyucian mental, harus melakukan pengorbanan-pengorbanan kecil, kegagalan-kegagalan kecil. Namun semua itu hanyalah proses menuju sesuatu yang subtansial, yang sangat berharga ”Irama hidup itu pula yang mewujud dalam diri kenalan baru saya, namanya Markum. Ia berjualan lukisan sejak zaman orde baru. Pria nyaris buta huruf (kalau tidak ada program Kejar Paket A) ini - hidup jujur kendati menyadari bahwa kehausan tepatnya keserakahan manusia itu tidak terbatas. Ia tak mau mengambil milik orang lain. Dan jangankan untuk mengambil, urusan sumbang- menyumbang tetangga hajatanpun perlu kepantasan. Padahal sehari hasil dari jualan lukisan, paling banyak dia untung Rp 5 ribu - Rp10 ribu untuk satu lukisan. Tetapi sekali diundang hajatan tetangga, keluarga miskin ini rela menyumbang Rp 10 ribu.

Lebih dari itu, hebatnya pula dengan puluhan lukisan di pundaknya, Markum bisa berjalan berkilo-kilometer jaraknya. Ia percaya pada Allah, yang selalu menemani dan tidak pernah membuatnya sepi dan sendirian.

Sepertinya senantiasa berakar dari kesucian moral yang dibangun melalui laku prihatin dan menjaga diri dari nafsu. Hidup memang penuh tenggang rasa. Hidup adalah realitas, tapi kebersihan hati yang utama. Dan, bagi mereka, hidup bukan hanya urusan perut tapi sebuah kepribadian tidak akan hilang setelah kematian. Itu yang akan menyertai di akhirat kelak. Tujuan hidup bisa rusak karena melayani perintah nafsu, marah, serakah, khayalan dan sebagainya.

Sebuah pepatah mengatakan, pikiran orang suci seringkali tampak terlalu bagus untuk hidup dan karena itu diremehkan manusia. Akibatnya seringkali ia tampak bukan bagian dari dunia ini. Ungkapan ”Kamu sok suci!” sering terngiang di telinga. Dituding bodoh karena menampik sogokan atau tak mau berkongkalikong. Celakanya, seringkali , ketidakjujuran dan pikiran kotor itu justru membawa sukses besar seseorang. Misalnya, dengan uang hasil KKN dia menjadi elite politik, menjadi konglomerat, atau pejabat daerah. Tentu semua itu bukan salah orang suci tersebut melainkan kesalahan dunia yang terlanjur busuk. Jadi tidak usah heran, bila kini semua orang seakan terobsesi bahwa keberhasilan materi adalah segalanya. Maka, orang yang berpikir jernihpun mengangkat tangan. Adilkah ini? Entahlah. Pertanyaan itu sulit dijawab.”Allah punya skenario yang tidak kita ketahui,” itu jawaban paling aman. Bukan begitu kawan? (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved