Berita Kotabaru

Cegah Pertumpahan Darah di Lahan PT MSAM & PT STC, Polres Kotabaru Ambil Langkah Ini

Pengamanan ratusan pekerja diamankan saat berada di lahan sengketa antara PT MSAM dan PT STC

Cegah Pertumpahan Darah di Lahan PT MSAM & PT STC, Polres Kotabaru Ambil Langkah Ini
helriansyah
Ratusan orang pekerja wakad di PT STC yang sempat diamankan, dipulangan dengan diantar menggunakan bus dan truk dalmas Polres Kotabaru. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Sebanyak 151 orang warga pekerja wakar di PT Sebuku Tanjung Coal (STC) yang diamankan jajaran Kepolisian Resort (Resor), Kamis (19/7/2018) kemarin dipulangkan. Sebelumnya ratusan pekerja wakar mayoritas dari beberapa wilayah di Kotabaru terlebih dulu dilakukan pendataan.

Pengamanan ratusan pekerja diamankan saat berada di lahan sengketa antara PT MSAM dan PT STC, upaya tindakan diskresi kepolisian mencegah terjadinya konfliks berpotensi memicu pertumpahan darah.

Selain ratusan pekerja wakar, anggota polres Kotabaru dibekup personel sat brimob Polda Kalsel juga sempat mengamankan empat orang karyawan PT STC.

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) Indosiar Piala AFF U-16 2018 : Timnas U-16 Indonesia Tak Target Juara

"Ada juga tiga orang sebelumnya diamankan saat dilakukan razia kewilayahan dan ditemukan sajam. Razia dilakukan di jalan wilayah Stagen. Hasil interogasi mereka juga bekerja di STC," kata Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto Sik SH, Jumat (20/7/2018).

Menurut Suhasto kepada banjarmasinpost.co.id dan beberapa awak media lokal, tindakan diskresi menjadi kewenangan kepolisian. Pembubaran paksa massa saat itu menduduki lahan sengketa, dengan tujuan lahan dikosongkan agar tidak memincu kilonflik.

Baca: Penerimaan CPNS 2018, Imbauan dan Informasi BKN Tentang Tutorial Tes CPNS 2018 untuk Lulusan SMA

"Apalagi sampai terjadi pertumpahan darah. Maka dari itu tindakan diskresi dilakukan mencegah terjadi konflik. Karena bisa saja dari pihak perusahaan yang satu (MSAM) menurunkan massa. Itu yang kita hindari," terang Suhasto.

Ditambahkan dia, terkait sengketa lahan seluas 36 hektar di wilayah Sungai Jernih, Desa Selaru, Kecamatan Pulaulaut Tengah, sebelumya sudah beberapa kali dilakukan mediasi yang melibatkan semua pihak termasuk dari PT STC dan MSAM.

Mediasi pertama dilakukan di tingkat kecamatan Pulaulaut Tengah, karena aksi pendudukan massa di lahan disengketakan. Namun menemui jalan buntu.

Baca: Barito Putera Vs Persib Liga 1, Persib Terancam Tanpa Top Skorernya, Begini Tanggapan Jacksen Tiago

Tidak ada penyelesaian, tambah Suhasto, karena dari pihak dari PT STC tidak mau menunjukan bukti alas hak lahan yang diklaim. Dengan alasan akan ditunjukan saat dipersidangan.

Kecuali dari pihak PT MSAM, masih menurut Suhasto, mereka ada menunjukan bukti alas hak lahan berupa segel dengan tahun 1982, 1983, dan 1984.

Halaman
123
Penulis: Herliansyah
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help