Fikrah

Lilitan Utang

Oh banyak sekali, karena dana tidak mencukupi maka ia pun berutang. Dan bisa jadi sang istri juga berutang.

Lilitan Utang
banjarmasinpost.co.id/rahmadhani
KH Husin Naparin 

Oleh: KH HUSIN NAPARIN, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel

ADA seorang kepala rumah tangga (suami/ayah), membangun rumah tangga. Ia berusaha membahagiakan istri dan anak-anaknya, disamping sang istri dan anak-anaknya menuntut berbagai hal untuk memenuhi keperluan agar kehidupan keluarga sesuai tuntutan zaman.

Oh banyak sekali, karena dana tidak mencukupi maka ia pun berutang. Dan bisa jadi sang istri juga berutang. Ada berutang karena terpaksa, tetapi ada pula hanya karena ingin agar penampilan keluarga di masyarakat menjadi wah.

Dunia perekonomian sekarang, mendukungnya lewat tawaran utang alias kredit dalam berbagai bidang kehidupan. Ada kredit rumah, kendaraan, pakaian, perhiasan, alat-alat rumah tangga, bahkah ada kredit untuk bisa beribadah umrah dan haji.

Ia terus berutang, tak terpikir seandainya meninggal dunia, siapa yang akan membayarnya. Anak sulungnya berpikir, kalau begini bisa jadi kedua orangtuanya nanti hanya mewariskan utang.

Sang ayah menghibur anaknya, mengatakan bahwa utang keluarga tidak membahayakan, aman-aman saja dan akan dikelola dengan baik; alasannya rasanya rugi kalau tidak berutang karena semua orang juga berutang. Terjadilah selorohan, “berutang rasa mendapat, membayar rasa kehilangan.”

Sepertinya, inilah kondisi bangsa dan negara kita dalam membangun bangsa dan negara. Pemerintah berutang, di satu pihak karena keharusan, tetapi bisa jadi berutang agar supaya bangsa dan negara ini sejajar dengan bangsa dan negara lain di dunia.

Konon katanya, membangun Istora Glora Bung Karno dulu berutang. Rakyat juga menuntut segala macam, khususnya pembangunan infrastruktur. Bagi petinggi kita tidak ada jalan lain, kecuali berutang.
Boleh-boleh kita bangga punya para petinggi negeri ini yang cerdas mencari pinjaman (utang). Bahkan cerdas menghibur kita bahwa semua pinjaman itu sudah diperhitungkan secara matang, tidak membahayakan.

Semua negara tidak ada yang tidak punya utang, sebut saja Yunani 379 miliar US$, Belgia 456,18 miliar US.$, Spanyol 1,24 triliun US.$, Inggris 2,34 triliun US.$, Jerman 2,4 triliun US.$, Prancis 2,37 triliun US.$, Italia 2,48 triliun US.$, China 4,9 miliar US.$, Jepang 9,087 triliun US.$, dan Amerika Serikat 19,23 triliun US.$; semua itu jika dikalikan rupiah, maka utang Indonesia tidak apa-apanya kendati mencapai 358,7 milyar US.$ setara Rp 5.021 triliun.

Oke lah, tidak apa-apa dibanding negara-negara itu. Tetapi, jika orang lain terjerumus ke dalam lilitan utang, apakah juga kita harus seperti itu? Kita salut jika para pemimpin kita cerdas mengelola utang, sehingga bangsa dan negara ini selamat; tetapi alangkah baiknya jika kita tidak mewariskan utang kepada anak-cucu.

Kita ingin petinggi negeri ini, siapapun dia, ada keprihatinan akan utang negara tercinta ini. Hal ini belum begitu terdengar. Penulis terkesima membaca berita, bahwa Raja Malaysia Yang Dipertuan Agung Sultan Muhammad V, meminta agar gaji dan tunjangannya dipotong 10 % hingga akhir masa jabatannya, karena prihatin besarnya utang negaranya (1 triliun ringgit Malaysia setara kira-kira Rp.3.500 triliun).

Beliau amat tersentuh dan mengucapkan terima kasih kepada rakyatnya, yang secara sukarela berkontribusi untuk Tabung Harapan Malaysia, yang menggalang dana masyarakat yang dirancang pemerintah untuk membantu mengurangi utang negara. PM Malaysia, Mahathir Muhammad menetapkan pemerintah memangkas gaji para menteri 10 % untuk tujuan sama, mengurangi utang negara. (BPost, 13/6/2018).

Sebagai seorang anak bangsa, kita mendambakan adanya keprihatinan dan gerakan seperti di negeri jiran ini. Sementara, mari kita semua berdoa, seperti doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Abu Umamah RA yang dililit utang, allaahumma innaa na’uzdubika min galabatid-daini wa qahrirrijaal.’ (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved