Pernah Dibantu Luhut Hingga Moeldoko, Anak Tukang Becak Ini Raih Cum Laude di ITB

Meski hanya sebagai anak tukang becak di Cilegon, Banten, namun Herayati punya keyakinan kuat tentang rezeki untuk membiayai kuliahnya.

Pernah Dibantu Luhut Hingga Moeldoko, Anak Tukang Becak Ini Raih Cum Laude di ITB
istimewa

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANDUNG - Meski hanya sebagai anak tukang becak di Cilegon, Banten, namun Herayati punya keyakinan kuat tentang rezeki untuk membiayai kuliahnya. 

Bahkan saat lulus dan diwisuda dengan predikat cum laude dari Fakultas MIPA Institut Teknologi Bandung (ITB) di Graha Sabuga, Bandung, Sabtu (21/7/2018), merupakan buah kerja kerasnya selama ini. 

Ditemui di sela prosesi acara wisuda ketiga ITB tahun akademik 2017/2018, di Graha Sabuga, Bandung, hari ini, Sabtu (21/7/2018), Hera menuturkan selama kuliah di ITB, Hera mengaku tidak pernah mengalami kekurangan finansial meskipun keluarganya terbatas dari segi ekonomi.

Baca: Capres-Cawapres Pilpres 2019, Jokowi Bakal Umumkan Cawapres Pendampingnya Tanggal 9 atau 10 Agustus

"Karena Hera punya keyakinan, rezeki tuh selalu dapat terus selama masa kuliah," ujar Hera.

Selama masa kuliah, dia rupanya pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Jenderal Moeldoko dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Baca: Begini Perjuangan Padamkan Karhutla di Dekat Tahura Sultan Adam, Petugas Susah Cari Oksigen

Demi mendapatkan uang tambahan untuk biaya kuliah, Hera juga bekerja paruh waktu sebagai guru privat bagi mahasiswa tingkat pertama ITB.

Saat memasuki kuliah di dua semester pertama, nilai akademiknya tidak terlalu baik, karena jumlah mata kuliah yang beragam di Program TPB.

"Setelah masuk program studi sarjana kimia, karena suka dengan kimia, nilai menjadi meningkat drastis," ujar Hera.

Baca: Motif Suap Karena Ingin Dapat Fasilitas di Dalam Penjara, Wakil Ketua KPK Angkat Bicara

Dalam menyelesaikan tugas akhir S1, Herayati mengembangkan suatu sintesis yang berasal dari kulit udang yang dapat digunakan untuk menyerap limbah timbal pada air Sungai Cikapundung.

“Penelitian saya yang dibimbing Bu Dr Deana Wahyuningrum dapat membantu mengurangi polusi air. Terlebih timbal merupakan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya.

Kedua orangtuanya, pasangan suami istri Sawiri (66) dan Durah (62), adalah sosok yang terus membuatnya tetap bersemangat menjalani studi di ITB.

Baca: Hari Ini Pengumuman UTM IPB 2018, Besok Pengumuman UM Undip 2018 Jalur Mandiri, Klik 2 Link Berikut

Di keluarganya, Hera adalah anak bungsu dari empat bersaudara.

Semangat itu, ujarnya, juga dibarenginya dengan rajin beribadah dan berdoa.

 “Kedua orangtua selalu mendukung saya. Beliau tak pernah mengeluh walau kondisi ekonomi dalam keadaan yang terbatas. Maka dari itu saya berusaha untuk terus berprestasi di ITB,” kata Hera.

Setelah lulus nanti, dia bercita-cita ingin menjadi dosen di daerahnya, Cilegon, Banten.

Baca: Jemaah Haji Kalsel Alami Pusing Hingga Gatal, Tim Kesehatan Imbau Lakukan Ini

"Saya ingin membaktikan diri kepada daerah yang sudah mendukung saya selama studi di ITB, saya juga sangat senang mengajar dan meneliti," kata Hera.

 Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Herayati, Anak Tukang Becak yang Lulus Cum Laude dari ITB Jadi Guru Privat untuk Biayai Kuliah

Editor: Rendy Nicko
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved