Kasus Pernikahan Dini Bayangi Hari Anak Nasional 2018, BKKBN: Stop Perkawinan Anak!

Peringatan Hari Anak diharapkan menjadi momentum pengingat untuk memperjuangkan hak-hak anak.

Kasus Pernikahan Dini Bayangi Hari Anak Nasional 2018, BKKBN: Stop Perkawinan Anak!
Banjarmasinpost.co.id/Rahmadhani
Bocah pernikahan dini dari Tapin, Kalsel bertemu Deddy Corbuzier di Hitam Putih Trans 7, Rabu, 18 Juli 2018 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tanggal 23 Juli diperingati sebagai hari anak nasional di Indonesia.

Dikutip dari Tribunnews.com, pada peringatan hari anak nasional ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengusung tema 'Stop Perkawinan Anak'.

Acara ini akan diadakan di Panggung Putro Pendowo, Area Teater Imax Keong Mas TMII, Rabu (22/7/2018).

Peringatan Hari Anak diharapkan menjadi momentum pengingat untuk memperjuangkan hak-hak anak.

Baca: Hasil Manchester United vs SJ Earthquakes Berakhir dengan Skor Imbang 0-0, Ada 24 Pergantian Pemain

"Hak atas kelangsungan hidup, hak tumbuh dan berkembang, hak mendapat perlindungan, dan hak partisipasi, sehingga akan menghasilkan generasi penerus bangsa yang GENIUS (Gesit Empati beraNI Unggul Sehat) dan Generasi Berencana untuk Indonesia Emas," ujar Plt kepala BKKBN Sigit Priohutomo.

Tak hanya itu, BKKBN juga mengajak para anak yang hadir untuk berikrar stop pernikahan dini. Diharapkan dengan kesadaran ini baik warga maupun pemerintah berkomitmen untuk melindungi hak-hak anak demi mempersiapkan perencanaan berkeluarga yang matang.

"Menghapuskan perkawinan anak, perkawinan dini dan perkawinan paksa perlu komitmen bersama dari berbagai pihak yakni pemerintah, swasta dan orang tua," kata Sigit.

Baca: Jadwal, Prediksi Skor dan Statistik PSMS Medan vs PSM Makassar Pekan 17 Liga 1 2018 Live Indosiar

Acara ini dihadiri ratusan anak dan orang tua, remaja dari Perkumpulan Pusat Informasi Konseling (PIK) Remaja, Perkumpulan Rumah Singgah, dan Para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya BKKBN dan Instansi terkait seperti Kemenko PMK, KemenPPPA, Kemenpora, Kemenkes, Kemensos, Kemenag, Bappenas, BNN, dll.

Acara ini juga diramaikan dengan tarian anak-anak Lenggang Nyai dari Rumah Singgah Himata, flashmob Asian Games 2018, lomba mewarnai, dan berbagai permainan menarik lainnya.

*Pernikahan Dini Yang Menghebohkan Publik Tahun 2018

Tahun 2018 ini saja, publik sempat digegerkan dengan pemberitaan beberapa pernikahan dini di Indonesia.

Yang paling baru adalah pernikahan pasangan belia asal Tapin, Kalimantan Selatan.

Pasangan IR (15) dan ZA (14) sempat menikah, meski akhirnya pernikahan itu dibatalkan.

Keduanya mengaku bertemu pertama kali di pasar malam di kampungnya dan berlanjut ke tahap obrolan via aplikasi WhatsApp.

Takut fitnah dan menghindari zina dijadikan alasan pernikahan keduanya beberapa waktu lalu.

Pernikahan dini lainnya terjadi di provinsi Sulawesi selatan. Dilansir dari Kompas, pertengahan April lalu, sepasang kekasih yang masih duduk dibangku kelas 2 SMP asal Bantaeng, Sulawesi Selatan kebelet nikah dan ditolak oleh penghulu dan Kantor Urusan Agama (KUA).

Namun, keinginan mereka terwujud setelah mengajukan gugatan ke Pengadilan Agama untuk mendapat persetujuan.

Yang menghebohkan selain usia calon mempelai masih di bawah umur, alasan menikahnya karena si gadis takut tidur sendirian.

Baca: Jadwal & Prediksi Susunan Pemain Persela Lamongan vs Madura United Live TV One Liga 1 2018 Pekan 17

"Menurut tantenya, anak ini mau menikah karena takut tidur sendiri di rumah setelah ibunya meninggal setahun yang lalu. Sementara ayahnya selalu meninggalkan rumah keluar Kabupaten untuk bekerja" ungkap Mahdi selaku Pelaksana Humas Kantor Kemenag Kabupaten Bantaeng.

Selanjutnya, dikutip dari Tribun Timur, bulan Mei tahun 2018 lalu, seorang murid SDN 125 Karampue, Sinjai Utara nyaris menjalani ijab kabul dengan seorang remaja asal Kecamatan Taroang, Kabupaten Jeneponto.

Si perempuan saat itu baru berumur 12 tahun dan akan dinikahkan dengan remaja berumur 21 tahun.

Untungnya rencana pernikahan itu tidak terwujud setelah masing-masing pihak keluarga menyadari jika yang akan mereka lakukan melanggar hukum.

Sebelumnya, orang tua dari pihak perempuan mengaku terpaksa akan menikahkan sang anak karena khawatir putrinya akan terlibat pergaulan bebas.

(Banjarmasinpost.co.id/noor masrida)

Penulis: Noor Masrida
Editor: Murhan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved