Kriminalitas Banjar

Berniat Melerai Pertengkaran Murid, Guru di Cindaialus Justru Dilaporkan ke Polisi

Tak terima anak perempuannya terkena kotak pensil oleh seorang guru, orangtua murid di Cindaialus melaporkan ke Polisi.

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Tidak terima anak perempuannya terkena kotak pensil oleh seorang guru di SDN Cindai Alus 1, Ummi Zahro, orangtua siswa berinisial Qr melaporkan insiden tersebut ke Polsek Martapura Kota.

Diduga, anaknya yakni Qr telah dilempar oleh seorang guru, yakni Sugiarti menggunakan kotak pencil. Kejadian itu bermula karena pertikaian Qr dengan teman sekelasnya di ruang kelas 6B, kelas yang Qr tempati.

Niat melerai yang dilakukan Sugiarti rupanya dianggap salah oleh Ummi Zahro. Diterangkan sebelumnya oleh Sugiarti kepada Banjarmasinpost.co.id, Selasa (24/7/2018) ia hanya ingin melerai pertengkaran siswa, yaitu Qr dengan temas sekelasnya.

Baca: Dibangun Pakai Dana Desa Rp 1,8 Miliar, Kantor Desa Ini Mirip Istana Negara

Namun karena Qr tak juga mendengarkan peringatan dari Sugiarti padahal telah ditegur untuk berhenti dan diminta Sugiarti untuk beristigfar, Sugiarti pun terus mencari cara agar Qr diam.

Situasinya saat itu, terang Sugiarti, Qr terus berucap kalimat yang dikhawatirkan semakin memicu pertengkaran.

Baca: 7 Menteri Kabinet Kerja Presiden Jokowi Bakal Mencaleg, Ini yang Dilakukan Bawaslu

"Saya melempar kotak pensil sama sekali tidak tahu kalau itu mengenai mulut si anak. Tidak benar saya sengaja melemparnya. Karena saya hanya berniat melerai," jelasnya.

Ia ceritakan pula lemparan kotak pensil itu pun hanya ke meja. Ia tidak tahu kalau akan memantul ke wajah Qr dan mengenai bagian bibir kanan atas  Qr.

Baca: Ingin Lihat Gerhana Bulan Secara Streaming, Ini Link-nya

Perihal kejadian itu, Ummi Zahro melaporkan kasus tersebut kepada pihak Kepolisian Martapura Kota pada Senin (23/7). Bahkan pada Selasa (24/7) ia ditemui oleh tim penyidik untuk memberikan perkembangan hasil laporan.

Selain itu, Ummi pun menanyakan apakah Sugiarti telah dipanggil oleh pihak kepolisian atau belum. Namun dari cerita Ummi atas tanggapan pihak Polsek, belum ada panggilan, mengingat guru merupakan seorang PNS.

Baca: Berpotensi Meningitis, Menkes Larang Jemaah Haji Swafoto dengan Unta

Sehingga harus melewati atasan terlebih dahulu. Baru kemudian bisa dilakukan pemanggilan.

"Kata saya, apabila mental (tidak bisa) proses disini (red: Polsek Martapura Kota), saya akan adukan ke Dinas Pendidikan. Karena saya tidak terima anak saya jadi korban kekerasan," ungkapnya.

(banjarmasinpost.co.id/ Isti Rohayanti)

Penulis: Isti Rohayanti
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved