Opini

Melahirkan Generasi Genius

Dalam perayaan HAN tahun 2018 ini tema yang diangkat sungguh sangat menarik yaitu adalah anak Indonesia anak GENIUS

Melahirkan Generasi Genius
istimewa/YABN
Hari Anak Nasional 

(Refleksi Hari Anak Nasional)
BANJARMASINPOST.CO.ID - SEBUAH bangsa yang maju, tentu tidak lepas dari peran para generasi mudanya. Di mana termasuk di dalamnya ialah anak-anak, yang kelak akan tumbuh dan berkembang untuk menjadi pemimpin dan sosok-sosok penting untuk membangun sebuah negara.

Maka dari itu, kehadiran dan peran dari anak-anak sebagai bagian dari elemen masyarakat juga sama pentingnya dengan peran orang-orang dewasa lainnya.

Betapa pentingnya kehadiran anak sebagai elemen dari masyarakat, oleh Pemerintah Indonesia telah menetapkan setiap tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional (HAN), sebagai salah satu upaya penjaminan hak anak yaitu hak hidup, hak tumbung kembang, hak berpatisipasi sesuai harkat dan martabat serta hak mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

Dalam perayaan HAN tahun 2018 ini tema yang diangkat sungguh sangat menarik yaitu adalah anak Indonesia anak GENIUS (Gesit-Empati-Berani-Unggul-Sehat). Istilah genius pada umumnya kita artikan sebagai suatu kecerdasan yang super di atas rata-rata kecerdasan manusia pada umumnya. Namun para pakar memiliki perbedaan pendapat dalam memahami kejeniusan.

Dalam buku “The Early Mental Traits of 300 Geniuses-Genetic Studies of Genius Volume 2”, seorang yang jenius didefinisikan sebagai orang yang menunjukkan kemampuan intelektual yang luar biasa, yang ditunjukkan dalam hasil kerja yang kreatif dan orisinal. Sementara Immanuel Kant mengatakan bahwa Jenius adalah bakat untuk menghasilkan sesuatu dimana tidak ada aturan tertentu yang dapat diberikan, bukan sebuah kemampuan yang mengandung suatu keterampilan untuk sesuatu yang dapat dipelajari dengan mengikuti aturan-aturan atau lainnya.

Atas dasar perbedaan pandangan ini, berbagai pihak melakukan studi yang komprehensif terhadap kejeniusan. Banyak pihak sepakat bahwa pada dasarnya setiap manusia terlahir jenius. Namun itu tidak berarti bahwa semua manusia jenius. Ini disebabkan karena seseorang dapat kehilangan kejeniusannya selama proses hidupnya. Hal ini pula yang membuka penelitian terbaru bahwa kejeniusan dapat dipulihkan dan dikembangkan, yang juga didukung dengan adanya pengetahuan tentang plastisitas otak. Dan karena kejeniusan merupakan sebuah ciri keunggulan mental seseorang, maka kejeniusan memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan ciri-ciri mental yang tidak jenius.

Berdasarkan hasil penelitian Dr Linda Silverman, direktur Gifted Development Center di Canada, menyebutkan ada 24 ciri-ciri seseorang yang genius adalah mempunyai kemampuan bernalar yang bagus; bisa belajar dengan cepat; memiliki perbendaharan kata yang luas; mempunyai kemampuan mengingat yang baik; bisa berkonsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya; sensitif perasaannya dan mudah merasakan emosi (emphatic); cepat menunjukkan rasa peduli; perhatian terhadap rasa keadilan; bisa mengambil keputusan dengan matang untuk yang seusianya; suka mengamati; gemar berimajinasi; perfeksionis; intensif (mempunyai keseriusan akan sesuatu); mempunyai kepekaan moral; mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi; mempunyai minat yang kuat; mempunyai stamina yang bagus; lebih suka bergaul dengan yang lebih tua atau lebih dewasa; mempunyai banyak minat di beberapa hal; lucu dan menggelikan hati; suka membaca; memiliki banyak akal; cenderung suka mempertanyakan otoritas; mempunyai kecakapan dalam berhitung; dan bagus dalam permainan jigsaw puzzles atau yang semisalnya.

Dari 24 ciri tersebut, ada satu point yang menarik adalah seorang yang genius suka membaca. Memiliki anak suka membaca tentunya adalah dambaan setiap orang tua. Kita dapat membayangkan betapa indahnya mengajari anak banyak hal jika mereka sudah menaruh minat yang baik terhadap bacaan. Tanpa harus keluar banyak energi menyuruhnya belajar, justru mereka yang merengek untuk dibelikan buku bacaan.

Terkait dengan hobi membaca ini, dalam sebuah penelitian terbaru yang dikutif di www.bbc.com yang dilakukan oleh Institut Pendidikan, Universitas London, yang meneliti kebiasaan membaca sekitar 6.000 anak. Anak-anak yang membaca untuk kesenangan cenderung lebih baik dalam menguasai matematika dan bahasa Inggris ketimbang mereka yang jarang membaca.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan lebih penting bagi perkembangan anak ketimbang aspek pendidikan orang tua mereka. Para peneliti menyimpulkan pula bahwa penguasaan kosakata yang diperoleh melalui akvitas membaca itu membantu anak-anak menyerap informasi informasi baru dan mempengaruhi pencapaian mereka dalam semua mata pelajaran pada kurikulum sekolahnya. Mereka menganalisa hasil tes terhadap para siswa berusia 16 tahun yang berjumlah 6.000 anak, yang semua lahir dalam satu minggu, berdasarkan data lembaga survei The 1970 British Cohort Study.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa mereka yang sering membaca pada usia 10 tahun dan telah membaca buku serta surat kabar lebih dari sekali seminggu di usia 16 tahun lebih mampu menguasai kosa kata dibandingkan mereka yang kurang membaca.

Penanggungjawab penelitian Dr Alice Sullivan menyebutkan pula,: “Ini mungkin tampak mengejutkan bahwa membaca untuk kesenangan akan membantu meningkatkan nilai matematika anak-anak. Sebanyak 14,4% anak-anak yang gemar membaca untuk kesenangan mampu menguasai matematika, sementara 9,9% lebih gampang memahami kosa kata. Kesimpulan ini juga didasarkan kepada latar belakang pendidikan orang tua serta kebiasaan membaca anak-anak tersebut.

Jadi adanya kebiasan kesenangan membaca seseorang lebih berpengaruh ketimbang latar belakang pendidikan orangtua. Dengan kata lain, dampak kemajuan pada anak-anak yang sering membaca walau hanya koran dan rajin mengunjungi perpustakaan-empat kali lebih besar daripada keuntungan memiliki orangtua yang berpendidikan universitas.

Semoga di moment HAN ini akan terus lahir generasi yang cinta membaca sebagai sebuah identitas dari generasi genius. Selamat HAN. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved