Yayasan Adaro Bangun Negeri

Lestarikan Budaya Melalui Kain Sasirangan, Warga Desa Liyu Membuatnya Pakai Pewarna Alam

Penduduk Desa Liyu, Gunung Riut merupakan masyarakat asli Dayak yang bermukim di kaki bukit Bedjalitn Jaya sejak ratusan tahun

Lestarikan Budaya Melalui Kain Sasirangan, Warga Desa Liyu Membuatnya Pakai Pewarna Alam
Istimewa
Anak perempuan juga ikut dalam tahapan proses pembuatan kain sasirangan 

Melalui bidang Sosial Budayanya Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) sejak tahun 2015 telah melakukan pendampingan untuk merevitalisasi nilai budaya dan kesenian yang ada di desa tersebut.

Pendokumentasian tradisi lisan kedalam sebuah buku menjadi hal pertama yang dilakukan oleh YABN dalam melestarikan nilai budaya masyarakat Dayak Deah Desa Liyu.

Peserta dikenalkan dengan bahan-bahan pewarna alami yang banyak terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.
Peserta dikenalkan dengan bahan-bahan pewarna alami yang banyak terdapat di sekitar lingkungan masyarakat. (Istimewa)

Di tahun-tahun selanjutnya YABN konsen kepada pendampingan pengembangan sosio ekonomi yang dimiliki masyarakat Desa Liyu, sejumlah pelatihan dilakukan untuk menjaga kelestarian budaya sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui pelatihan mengukir dan pembentukan sekolah adat di desa tersebut.

Kekayaan budaya dan alam yang dimiliki desa Liyu di Tahun 2018 kembali dilestarikan dengan melakukan pendampingan kepada masyarakat Dayak Deah Desa Liyu.

Seni dan budaya masyarakat diabadikan melalui pelatihan pembuatan kain sasirangan. Dengan menerapkan corak dan warna khas dari masyarakat Dayak Deah Liyu.

Bekerjasama dengan Himpunan Pengusaha Mikro Dan Kecil Indonesia (HIPMIKINDO) pelatihan pembuatan kain sasirangan dengan menggunakan bahan pewarna alam dilaksanakan selama tiga hari di desa tersebut.

Dalam pelatihan puluhan ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok sasirangan desa liyu dibekali ilmu dasar-dasar membuat kain sasirangan, mulai menjelujur, membuat pola sampai dengan melakukan pewarnaan.

“Proses pembuatan kain sasirangan dimulai dengan membuat pola kemudian menjelujur kain hingga benar-benar rapi, tentunya penggunaan motif berorintasi dengan ciri khas masyarakat desa liyu sebagai masyarakat adat Dayak," ungkap Bambang Sudaryanto staf bidang Sosial Budaya YABN.

Tidak lupa, peserta dikenalkan dengan bahan-bahan pewarna alami yang banyak terdapat di sekitar lingkungan masyarakat.

Kunyit, daun rambutan, akar pohon-pohonan hingga bunga yang banyak terdapat di desa seperti bunga kambodja dan kenanga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna kain sasirangan.

Halaman
123
Penulis: Dony Usman
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved