B Focus Banua Anam

Surga Nelayan Itu Ternoda Ilegal Fishing

SETIAP musim panas atau kemarau, Danau Bangkau yang berada di Desa Bangkau Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Surga Nelayan Itu Ternoda Ilegal Fishing
BPost Cetak

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - SETIAP musim panas atau kemarau, Danau Bangkau yang berada di Desa Bangkau Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) akan menjadi ladang bagi para nelayan untuk berburu ikan.

Tidak hanya dari HSS, melainkan para nelayan bisa berasal dari kabupaten tetangga, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Utara (HSU).

Lokasi Danau Bangkau memang menjadi surga para nelayan saat musim kemarau.

Baca: Pengemis Ini Bikin Heboh, Bawa Uang Jutaan di Tas dan Mengaku Hasil Meminta-minta

Saat air surut, lokasi ini akan melimpah oleh berbagai jenis ikan air tawar.

Setiap harinya, diperkirakan ikan tertangkap mencapai satu ton ikan air tawar dari danau yang memiliki luas sekitar 615,5 hektare tersebut.

Produksi ikan air tawar dari Danau Bangkau beragam jenis ikan di antaranya haruan, papuyu, sepat siam, sepat rawa, biawan dan kapar.

Baca: Pendaftaran CPNS 2018 Dijadwalkan Akhir Juli Ini - Kata BKN Soal Foto Laman Seleksi CPNS 2018

Seiring dengan melimpahnya produksi ikan air tawar, kegiatan illegal fishing atau penangkapan ikan secara ilegal juga meningkat saat kemarau.

Apalagi, hasil yang diraih dengan menggunakan illegal fisihing jauh lebih banyak dibanding dengan alat tangkap tradisional.

Menurut para nelayan setempat, dalam satu hari pencarian ikan menggunakan alat tradisional bisa mendapatkan ikan mulai dari empat kilogram hingga 10 kilogram.

Baca: Fenomena Langit Langka Ini Terjadi Sehari Sebelum Gerhana Bulan Total Super Blood Moon 28 Juli 2018

Hasil itu dirata-rata dengan tangkapan tradisional melunta, melukah, merengge, malalangit dan memancing oleh warga yang melakukan aktivitas mencari ikan di Danau Bangkau.

Jika menggunakan alat setrum ikan, penghasilan ikan jauh lebih besar dan berkali-kali lipat.

Dalam satu hari mencari ikan dengan alat setrum bisa menangkap minimal 50 kilogram.

“Dengan asumsi harga per kilogram Rp 20 ribu, maka pendapatan penyetrum seharinya bisa meraih Rp 1 juta,” kata seorang nelayan setempat, Selasa (24/7).

Warga Desa Bangkau ini mengakui, hasil tangkapan dengan cara tradisional memang jauh lebih sedikit dibanding cara menggunakan alat setrum.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help