Opini Publik

Beasiswa dan Loyalitas Mahasiswa pada Negara

Beasiswa ini diberikan kepada mahasiswa yang memenuhi syarat, terutama dari keluarga miskin, dikuatkan dengan penghasilan

Beasiswa dan Loyalitas Mahasiswa pada Negara
BPost
Ahmad Barjie B - Mahasiswa Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin

Tetapi karena anggaran negara katanya belum mampu menggratiskan semua pendidikan, maka orangtua masih dikenai biaya pendidikan, bahkan masih tergolong besar, baik yang bersekolah di negeri maupun swasta. Akibatnya PT masih merupakan barang mahal dan partisipasi rakyat masuk PT rendah, jauh lebih rendah dari negara-negara Asia dan Asia Tenggara.

Banyak negara di dunia mampu menggratiskan biaya pendidikan untuk rakyatnya hingga PT. Sejumlah negara Eropa, Amerika, Jepang, Korea, Taiwan, tidak ketinggalan negara-negara Islam Timur Tengah seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Iran, Irak, Mesir dan banyak lagi. Termasuk Brunei Darussalam, dengan hanya membayar 1 Dolar Brunei (Rp 10.000), orang bebas kuliah di perguruan tinggi negeri apa saja. Kecuali kalau ingin sekolah/kuliah ke lembaga swasta, mereka membayar sesuai ketentuan.

Meski belum didukung data, saya melihat orang-orang yang diberi beasiswa lebih loyal kepada negara atau lembaga pemberinya. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di Timur Tengah misalnya, tampak keislamannya lebih kental dan mereka merasa terkait dengan negara tempat almamaternya berada. Begitu juga mahasiswa kita yang kuliah di negara-negara Barat, mereka tidak memandang Barat sebagai musuh atau rival, bahkan tidak sedikit yang ikut berpikir liberal dan sekuler.

Sekiranya negara dan/atau daerah mampu menggratiskan semua biaya pendidikan tentu sangat baik dan mulia. Siswa atau mahasiswa yang merasa sekolah dan kuliahnya dibiayai sepenuhnya, diyakini akan lebih loyal kepada negaranya, sebab negara telah berjasa begitu besar dalam pendidikannya, yang menentukan nasib dan masa depannya. Mereka bisa membandingkan betapa susahnya orangtua mencarikan uang untuk sekolah dan kuliah, lalu negara/daerah mengambil alih biaya tersebut, alangkah bahagianya.

Sekarang ada sinyalemen, banyak mahasiswa PT negeri dan swasta terpapar radikalisme, mereka cenderung kepada idealisme yang menjanjikan perubahan, termasuk pendidikan gratis. Itu mungkin karena mahasiswa merasa keadaan sekarang tidak ideal, salah satunya pendidikan mahal.

Jika pemerintah ingin mendapatkan loyalitas rakyatnya, terutama mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, maka pendidikan untuk mereka harus terus dipermudah dan dipermurah, kalau memungkinkan semua gratis. Tidak elok kalau untuk pintar saja begitu mahal dan dipersulit urusannya. Padahal kepintaran itu nantinya diabdikan untuk negara juga.

Kalau rakyat tidak pintar, bodoh, menganggur, menimbulkan masalah sosial dan kriminal, justru akan membebani negara. Energi negara yang hanya tersedot untuk menangani masalah rakyat, sementara rakyat tidak mampu berkontribusi untuk kemajuan negaranya, akan kalah dalam persaingan global. Wallahu a’lam. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help