Tajuk

Momok Kemarau

Seolah peristiwa kebakaran lahan ini menjadi rutinitas tahunan di Bumi Lambung Mangkurat setiap musim kemarau.

Momok Kemarau
Banjarmasinpost.co.id/Nia Kurniawan
Kebakaran lahan di Guntung manggis beberapa waktu lalu, 20 hektar terbakar. Menyebabkan kepulan asap tebal saat itu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - SETIAP musim kemarau, tensi kecemasan, kekhawatiran dan ketakutan warga dan semua aparat serta pejabat di Kalimantan Selatan (Kalsel) terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan meningkat. Selain bahaya asap, juga kekhawatiran kebakaran lahan itu merembet ke permukiman.

Hal itu dibuktikan dengan gencar dan banyaknya papan imbauan kepada warga agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Reklame dan spanduk-spanduk yang berisi imbauan, larangan hingga ancaman bagi warga yang melakukan pelanggaran, dengan mudah dijumpai di sudut-sudut kota maupun di pusat-pusat keramaian.

Meski begitu, kebakaran lahan masih saja terjadi. Seolah peristiwa ini menjadi rutinitas tahunan di Bumi Lambung Mangkurat setiap musim kemarau. Hanya saja yang membedakan intensitas atau luasan lahan yang terbakar. Adakalanya lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya, maupun sebaliknya, justru lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Begitu halnya pada musim kemarau kali ini. Meski sejumlah kalangan menilai kebakaran lahan tidak separah seperti era 2004-an, namun intensitasnya cukup besar. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel, sejak kurun Mei hingga Juli 2018 ini sudah terjadi kebakaran lahan sebanyak 107 kejadian.

Bahkan ditengarai, kebakaran lahan tahun ini lebih parah karena hampir semua daerah di Kalsel mengalaminya kecuali Baritokuala, Kotabaru dan Hulu Sungai Tengah. Prediksi makin parahnya musibah ini juga ditandai dengan permintaan bantuan BPBD Kalsel ke pemerintah pusat, agar mengirimkan helikopter untuk melakukan serangkaian kegiatan pencegahan agar kebakaran lahan tidak meluas.

Peristiwa ini memang membuat miris, karena selalu terjadi meskipun berbagai upaya dari pihak-pihak terkait untuk melakukan pencegahan terus dilakukan. Mulai pasang imbauan, sosialisasi, menyiagakan petugas hingga pemberian sanksi hukum. Namun kabut asap akibat kebakaran lahan masih menyelubungi daerah ini.

Rasanya solusi yang efektif menghentikan ‘tradisi’ kabut asap di Bumi Lambung Mangkurat ini dengan meningkatkan efek jera bagi para pelaku pembakaran lahan. Perlu sanksi yang lebih tegas dan berat lagi bagi pembakar lahan, baik perseorangan maupun korporasi. Seperti yang sudah dilakukan aparat penegak hukum tahun sebelumnya.

Selain itu, publikasi terhadap penjatuhan sanksi tersebut harus dibuka lebar-lebar dan disampaikan kepada khalayak umum agar semua kalangan mengetahuinya. Dipastikan, upaya tersebut bisa menekan badai asap yang selalu mewarnai daerah ini. Karena siapapun akan berpikir ulang jika hendak melakukan pembakaran lahan dengan dalih apapun. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved