Menguak Perceraian di Serambi Mekah

Angka Perceraian Kabupaten Banjar Tinggi, Perselisihan Hingga Pasangan Kabur Jadi Penyebabnya

Panitera Pengadilan Agama Kelas IB Martapura, Mukhyar mengatakan, perkara yang diselesaikan ada 1.155 perkara pada 2017

Angka Perceraian Kabupaten Banjar Tinggi, Perselisihan Hingga Pasangan Kabur Jadi Penyebabnya
business-superstar
Ilustrasi. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Angka perceraian di Kabupaten Banjar cukup tinggi, kondisi ini membuat prihatin panitera di Pengadilan Agama Kelas IB Martapura. Penyebabnya, faktor tertinggi adalah perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga.

Panitera Pengadilan Agama Kelas IB Martapura, Mukhyar mengatakan, perkara yang diselesaikan ada 1.155 perkara pada 2017. Jenis perkara yang menonjol, yakni cerai talak 186 perkara yakni percaraian yang diajukan suami kepada istri, cerai gugat jumlahnya 678 perkara yakni perceraian yang diajukan istri kepada suami.

Baca: SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming Real Madrid vs Man United ICC 2018 Live TVRI dan INews TV

“Cerai gugat mendominasi setiap tahun, penyebabnya yang menonjol ada beberapa faktor,” katanya, Rabu (1/8).

Disebutkannya faktor perceraian, perselisihan yang terus menerus, faktor ekonomi, meninggalkan salah satu pihak atau tidak ada kabar, karena biasanya salah satu pihak menjalani hukuman dalam penjara dan istri tidak sabar menunggu, dan ada kekerasan dalam rumah tangga.

Baca: Tahun Ajaran Baru Dimulai, Buku Paket Masih Belum Lengkap, Ada Orangtua Siswa yang Melakukan ini

Panitera di Pengadilan Agama Kelas IB Martapura, Mukhyar.
Panitera di Pengadilan Agama Kelas IB Martapura, Mukhyar. (hasby)

Kalau faktor penyebab lainnya seperti zina, mabuk dan narkoba, judi, poligami, kawin paksa, murtad tidak ada. Faktor penyebab perceraian didominasi kelima faktor yang disebutkannya diatas.

“Ada 485 perkara perceraian karena perselisihan dan pertengkaran, urutan kedua faktor ekonomi sebanyak 154 perkara,” jelasnya.

Baca: PSK Eks Lokalisasi Pembatuan Menghilang, Petugas Patroli Kehilangan Jejak, Yanto: Patroli Nihil!

Ilustrasi
Ilustrasi (banjarmasinpost.co.id/kompas.com/SHUTTERSTOCK)

Dijelaskannya, sebagai lembaga tentunya prihatin dan tingginya angka perceraian bukan harapan, meski dari sisi kinerja melihat jumlah perkara yang ditangani.

Berkenaan tingginya angka perceraian, pihaknya menghimbau usia perkawinan supaya menyesuaikan dengan UU perkawinan, suami 19 tahun dan istri 16 tahun. Ketidakharmonisan salah satu penyebab dominan karena perkawinan dilakukan pada usia muda, walau dapat dispensasi dari Pengadilan Agama.

“Karena melihat manfaat mudaratnya maka mengabulkannya, lalu KUA menikahkannya. Menjadi harapan kalau bisa janganlah masyarakat mudah menikahkan anak-anak yang belum sampai usia sesuai UU perkawinan,” ujarnya.

Dia menambahkan, sepanjang 2017 ada 35 perkara yang mengajukan dispensasi nikah. Artinya yang orangtuanya mengetahui dan menyadari melanggar UU perkawinan maka mengajukan dispensasi tersebut.

Perlunya kesadaran untuk menjaga keutuhan rumah tangga ditengah era globalisasi dan merebaknya media sosial. Istri hendaknya memposisikan diri sebagai ibu rumah tangga walau sebagai wanita karier.

“Bagi suami, hendaknya memperlakukan istri sebaik-baiknya. Bukan obyek tetapi mitra dalam membangun rumah tangga,” tambahnya. (Banjarmasinpost.co.id/Hasby)

Penulis: Hasby
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help