berita nasional

Ini Alasan Menteri ESDM Serahkan Blok Rokan ke Pertamina

Setelah 50 tahun dikelola Cevron, Pemerintah memberikan pengelolaan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero).

Ini Alasan  Menteri ESDM Serahkan Blok Rokan ke Pertamina
Kompas.com
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bersama sejumlah petugas pajak usai melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak tahun 2017 di kantor ESDM, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).(KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA) 

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTA -  Setelah 50 tahun dikelola Cevron, Pemerintah memberikan pengelolaan Blok Rokan kepada PT Pertamina (Persero). Blok migas ini berpotensi memberikan pendapatan negara selama 20 tahun ke depan sebesar 57 miliar dollar AS atau atau sekitar Rp 825 triliun.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mengatakan, Presiden Joko Widodo menginstruksikan pemberian pengelolaan Blok Rokan harus mengutamakan kontraktor yang akan memberikan kompensasi lebih baik kepada Pemerintah.

"Arahan Bapak Presiden, Blok Rokan mau diperpanjang atau diberikan kepada Pertamina, berdasarkan pertimbangan satu-satunya adalah pertimbangan komersial," ujar Jonan dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/8/2018).

Menurut Jonan, Pertamina mampu menawarkan proposal pengelolaan blok Rokan lebih baik dibanding kontraktor eksisting. Hal itu mengindikasikan bahwa Pertamina masih bisa menjalankan kegiatan operasionalnya dengan baik.

Baca: Capres-Cawapres Pilpres 2019, Ini Reaksi PDIP Ketika Jokowi-Prabowo Akan Bertemu

"Kalau anda bilang Pertamina keuangannya seret itu betul, saya enggak bilang bangkrut loh ya. Tapi masih bisa jalan enggak? Bisa. Contohnya apa, Blok Rokan akan habis 2021 dan kita bahas sekarang, hari ini diputuskan. Pertamina ikut berpartisipasi mau ambil Blok Rokan enggak? Dia ikut kan, kalau dia tidak punya uang kenapa ikut, kan gitu," kata Jonan.

Jonan menjelaskan, ada tiga hal yang membuat Pertamina selaku Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mampu menjalankan tugas yang diberikan oleh pemerintah. Pertama adalah Pertamina memiliki resources yang sangat besar, dengan pangsa pasar yang besar.

"Pertamina itu resources-nya besar sekali, apa yang dia kerjakan itu dari segi market share-nya besar, tinggal caranya saja mengelola ini harus menyesuaikan dari waktu ke waktu," ucap dia.

Baca: Bocah Kelas IV SD di Batola Digigit Buaya, Warga Diminta Jangan Buang Limbah Ayam ke Sungai

Kedua, lanjut Jonan, Pertamina dibangun untuk bangsa Indonesia, bukan sebaliknya. Karena Pertamina sebagai perusahaan plat merah bidang migas dibangun untuk menopang dan mendukung kegiatan migas di Indonesia.

"Menurut pemahaman saya, jika bangsa Indonesia dibangun untuk Pertamina, saya kira tidak pas, ini mesti disandingkan dengan Undang-Undang (UU) BUMN. UU BUMN harus dilihat secara komprehensif," lanjutnya.

Terakhir, Jonan menegaskan bahwa tidak ada sedikitpun keinginan pemerintah untuk membuat Pertamina itu bangkrut. Karena dari setiap kebijakan yang akan dibuat, Presiden selalu merundingkan dengan Menteri BUMN dan dirinya.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help