Berita Hulu Sungai Tengah

Petani HST Sukses Tanam Pepaya California, Raup Rp 10 Juta Lebih Tiap Bulan

Jarak kebun tersebut, sekitar 500 meter dari rumahnya di Desa Banuabudi, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Petani HST Sukses Tanam Pepaya California, Raup Rp 10 Juta Lebih Tiap Bulan
Hanani
Panen buah pepaya di kebun milik Syamsul (53), warga Desa Banuabudi, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah, Sabtu (4/8/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Waktu menunjukkan pukul 07.30 Wita. Syamsul (53) dan istrinya Musliana (50) bergegas pergi ke kebun pepaya. Sabtu (4/8/2018), merupakan jadwal panen pepaya California di kebunnya.

Jarak kebun tersebut, sekitar 500 meter dari rumahnya di Desa Banuabudi, Kecamatan Barabai, Hulu Sungai Tengah, Kalsel.

Bersama Syamsul dan istri, sudah menunggu Gani. Dialah selama ini yang menjadi mitra Syamsul memasarkan buah yang tak mengenal musim tersebut.

Baca: Jadwal Live Indosiar & Prediksi Susunan Pemain Persib vs Sriwijaya FC Liga 1 2018 Sabtu (4/8)

Syamsul adalah salah satu warga, yang berani 'hijrah’ dari pekerjaan lamanya sebagai sopir angkutan truk. Dia juga berkebun karet, yang selama ini menjadi sumber pendapatan keluarganya. Namun sejak harga karet anjlok, dengan kisaran harga Rp 5 ribu sampai Rp 7 ribu per kilogram, menyadap karet tak lagi bisa diandalkan sebagai penopang hidup keluarga.

Baca: Sedang Berlangsung! Live Streaming Persib Bandung vs Sriwijaya FC via Streaming Indosiar

Pada tahun 2015, Syamsul nekat menebangi pohon karetnya. Karet jenis unggul yang baru dua tahun pernah dipanen. Dia menggantikannya dengan tanaman Pepaya Californa. Jenis buah pepaya yang daging buahnya berwarna kuning kemerahan, dengan rasa manis. Syamsul menanam 800 pohon pepaya di atas lahan eks tanaman karet tersebut.

Bibit berupa biji, dia beli di toko pertanian di Barabai. “Memang tak 100 persen berhasil. Dari 800 pohon, hanya separuhnya yang berhasil tumbuh dengan baik, hingga berbuah,” tutur Syamsul kepada BPost Online, di sela memetik buah pepaya. Syamsul yang lulusan Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Rantau, Kabupaten Tapin mengaku tak memerlukan modal besar dalam merintis usaha kebun pepayanya itu.

Baca: Maya dan Cut Tari Dipraperadilankan LSM, Terkait Kasus Video Hot dengan Ariel Noah 2010 Lalu

Masalahnya, semuanya dikerjakan sendiri. Mulai mengolah lahan, menanam hingga merawatnya dia lakukan bersama istrinya. Agar fokus, istrinya pun tak lagi menyadap karet. Kebun karet tersisa, yang tak ditebangi dia serahkan kepada warga lain untuk menyadapnya, dengan sistem bagi hasil. Setelah delapan bulan pascatanam, berbagai masalah dihadapinya.

Masalah Muncul

Ada yang berhasil tumbuh dengan baik. Adapula yang mati karena diserang hama. Namun, dari pengalaman yang dialami, Syamsul justru belajar mengatasi masalah dalam budidaya buah pepaya tersebut. “Alhamdulillah, sisa 400 pohon tumbuh dengan baik. Berbuah lebat menghasilkan buah yang berkualitas,” ungkap Syamsul.

Masa pertama panen sampai sekarang, menghasilkan lima kuintal atau 500 kilogram per sekali panen. Adapun panennya dilakukan dua kali dalam satu minggu. Ayah tiga anak itu pun tak susah payah memasarkan hasil panennnya. Dia sudah punya mitra pemasaran, yang memasarkan langsung ke pasar Barabai. Adapun harga per kilogram langsung dari kebun Rp 4 ribu sampai Rp 5 ribu.

Harga pepaya di pasar Barabai, Rp 8 rubu sampai 10 ribu per kilogram. Selain pemasaran secara lokal, hasil panen pepaya juga dikirim ke Samarinda, Kalimantan Timur. Untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan konsumen di pasar, Syamsul sangat menjaga kualitas buah.

Mengapa Syamsul tertarik berkebun pepaya California? Untuk mengetahuinya baca harian cetak Banjarmasin Post atau KLIK DI SINI.

(hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help