Tajuk

Rangkul Pamburung

Pamburung, istilah pelesetan Bahasa Banjar untuk orang yang hobi memelihara burung atau pun yang jual beli burung.

Rangkul Pamburung
tribunpontianak.com
Lovebird jenis biola green dan biola euwing green di Pameran Burung Lovebird Exotic di Mako Lantamal XII, Jalan Kom Yos Sudarso, Pontianak, Minggu (19/11/2017). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Adelbertus Cahyono) 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Pamburung, istilah pelesetan Bahasa Banjar untuk orang yang hobi memelihara burung atau pun yang jual beli burung. Asal katanya pemborong atau kontraktor. Ada kabar kurang bagus bagi komunitas tersebut. Terutama yang menyukai dan mengoleksi burung berkicau jenis tertentu. Sebab kini ada larangan dari pemerintah untuk memelihara atau pun memiliki secara pribadi.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Indonesia, Siti Nurbaya, menerbitkan aturan baru dengan menambah daftar satwa dilindungi dari 294 menjadi 921 jenis, termasuk di antaranya burung berkicau cucak rawa, kenari dan kacamata jawa.

Daftar itu tercantum dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018. Dasar kriterianya (merujuk) Pasal 5 PP Nomor 7 Tahun 1999. Bila melanggar aturan main tersebut, sanksi yang dikenakan adalah penjara maksimal 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta, sesuai Pasal 40 UU No. 7/1999. Sementara, bila lalai, akan ada sanksi pidana maksimal 1 tahun dan denda paling banyak Rp 50 juta.

Menurut Mongabay – organisasi penyedia ragam berita konservasi dan sains lingkungan berbasis non-profit– hingga 2018, ada 1.771 jenis burung di Indonesia. Yang dilindungi saat ini sebanyak 436 macam. Sedangkanjenis burung endemik Indonesia yang telah teridentifikasi berjumlah 513 jenis.

Di Kalimantan, menurut burungmedia.com, terdapat sedikitnya 420 spesies burung dan lebih dari 40 jenis di antaranya burung endemis. Khusus di Kalimantan Selatan, belum ada yang mempublish jumlah pastinya. Begitu pula komunitas ‘pamburung’ tadi. Belum yang mendata dan juga jumlah burung yang beredar di lingkup mereka. Terutama yang termasuk dilindungi.

Tetapi yang pasti, pemerintah (daerah) melalui instansi terkait, mesti segera menindaklanjuti peraturan tadi. Sosialisasi dan update informasi melalui media sosial yang kini tak asing lagi. Termasuk misalnya, perihal ditemukan satu spesies baru burung kacamata yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya oleh para ahli yaitu meratus white-eye atau pleci meratus, serta spesies baru burung sikatan yaitu Meratus jungle flycatcher.

Dalam jurnal akademik BirdingASIA disebutkan bahwa penemuan dua spesies burung baru itu terjadi sekitar April 2016 di kawasan Meratus, Kalimantan Selatan, oleh tim peneliti yang dipimpin oleh JA Eaton dan kolega.

Ada baiknya juga intansi terkait merangkul komunitas ‘pamburung’ tadi. Berinterkasi dengan mereka, secara perlahan akan bisa memahami kemudian mencari solusi agar mereka turut mendukung upaya pemerintah melindungi macam burung langka yang semakin terancam eksistensinya. Begitu pula kepada masyarakat yang terbiasa mencari burung lalu menjualnya untuk menambah pemasukan demi menunjang kehidupan sehari-hari. Mereka bisa diarahkan mencari burung jenis lain yang juga banyak peminatnya, namun bukan termasuk yang dilestarikan. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help