Jendela

Misteri Politik

MINGGU ini, paling lambat 10 Agustus 2018, seluruh rakyat Indonesia akan mengetahui pasangan calon capres dan cawapres

Misteri Politik
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - MINGGU ini, paling lambat 10 Agustus 2018, seluruh rakyat Indonesia akan mengetahui pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan bertarung dalam Pemilu 2019 nanti. Sementara Joko Widodo dan Prabowo Subianto tampaknya sudah mantap akan maju sebagai capres, yang masih dipilih-pilih dan ditebak-tebak adalah cawapres masing-masing.

Kata orang, politik itu seni kemungkinan. Politik itu mudah berubah sehingga pengamat hebat sekalipun bisa meleset. Tetapi apakah politik itu sepenuhnya misterius? Tidak juga. Setiap gejala sosial dapat ditelaah secara rasional berdasarkan fakta lapangan. Kesalahan pengamat biasanya bukan karena politik itu tidak bisa dijelaskan, tetapi karena dia kekurangan informasi atau salah membaca informasi.

Kesalahan membaca atau kekurangan informasi itulah yang membuat politik jadi misterius. Biasanya apa yang ditampilkan para politisi di depan publik bukanlah informasi tentang seluruh negosiasi yang telah berlangsung. Kita tidak akan diberitahu tentang tawar-menawar di balik layar yang dilakukan para elite politik itu. Yang paling tahu soal ini hanyalah orang-orang yang terlibat, bukan pengamat dari luar.

Memang, pengamat yang cermat akan dapat membaca gejala-gejala yang tampak itu untuk menebak tawar-menawar yang terjadi. Teori sederhananya adalah, para politisi akan bernegosiasi tentang siapa yang akan mendapatkan apa. Semua politisi akan membawa kepentingan dirinya dan partainya. Kepentingan politisi yang utama adalah kekuasaan: kamu, kami dan mereka akan dapat jabatan apa?

Setelah kaum elite itu membuat kesepakatan, mereka akan menyusun strategi mengenai cara-cara yang ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan itu. Dalam sistem demokrasi, kekuasaan akan didapatkan jika orang menang dalam pemilu. Karena itu, mereka yang berebut kekuasaan akan berusaha mengerahkan tenaga, pikiran dan biaya semaksimal mungkin untuk memenangkan pasangan calon yang diusung.

Apakah cara-cara yang akan ditempuh para politisi itu? Tentu segala macam cara. Namun, secara umum, cara itu dua saja: yang bermoral dan sesuai peraturan yang berlaku, dan yang tidak. Yang kita khawatir, dan ini seringkali terjadi di mana-mana, para politisi itu menghalalkan segala cara. Asal menang, apapun mereka lakukan. Fitnah, berita palsu dan ujaran kebencian hingga politik uang, semua dilakukan.

Cara dan tujuan itu berhubungan erat. Jika tujuan politisi adalah merebut kekuasaan, maka pertanyaan selanjutnya adalah, untuk apa kekuasaan itu nanti digunakan? Jika cara-cara yang ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan itu sudah salah dan tidak bermoral, maka besar kemungkinan, kekuasaan yang didapatkan akan digunakan untuk kepentingan yang salah kaprah dan tidak bermoral pula.

Rakyat tentu berharap akan mendapatkan pemimpin yang baik, yang mendapatkan kekuasaan dengan cara-cara yang baik dan menggunakannya untuk kebaikan bersama. Sayangnya, mana yang baik dan buruk dalam politik itu seringkali kabur. Ini bukan antara malaikat dan setan, tetapi antara manusia dan manusia. Karena itu, yang seringkali realistis adalah memilih calon yang paling kurang keburukannya.

Namun, justru penentuan pilihan itulah pada akhirnya yang membuat politik menjadi misteri. Kebebasan memilih merupakan hakikat terdalam dari kemanusiaan kita. Selama kebebasan itu terjamin, selama itu pula demokrasi kita akan memiliki kekuatan misterius yang membuat kita berdebar-debar. Siapapun boleh mengira-ngira, seberapa dalam lautan politik itu, tetapi dia takkan tahu pasti isi hati para pemilih.

Alhasil, politik itu misteri karena keterbatasan kita dalam memahami dan menghimpun informasi. Politik itu misteri karena masing-masing kita memiliki kebebasan untuk memilih. Misteri itu berguna agar kita tetap bergairah dalam berdemokrasi, sekaligus menuntun kita untuk tetap rendah hati. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help