Berita Hulu Sungai Tengah

Syekh Asal Buka Rahasia Suksesnya, Hapal Alquran 30 Juz dan Jadi Iman Besar, Berkat Orang ini

Pengalaman dan tips menjadi penghapal Alquran itu dia share ke para santri tahfizul quran se Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Senin (6/8/2018)

Syekh Asal Buka Rahasia Suksesnya, Hapal Alquran 30 Juz dan Jadi Iman Besar, Berkat Orang ini
Hanani
Syekh Asal saat menerima cinderamata dari Pemkab HST yang diserahkan Staf Ahli, Supiani didamping Kabag Humas, Ramadhan, usai menjadi pembicara di Seminar Penghapal Alquran, Senin (6/8/2018). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Syekh Asal Syubah bin H Yanto Al Makki Al Banjari mengaku punya pengalaman yang tak terlupakan, saat dia berjuang menjadi penghapal Alquran. Juga menjadi imam besar di Masjid Birul Walidain, sebuah masjid di Kota Makkah Al Mukarramah.

Pengalaman dan tips menjadi penghapal Alquran itu dia share ke para santri tahfizul quran se Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Senin (6/8/2018) di pada Seminar Penghapal Alquran di Pendopo Kabupaten HST.

Seminat dihadiri sekitar 150 orang tersebut, juga dihadiri para ustadz-ustadzah Taman Pendidikan Alquran, para pengajar Madrasah Diniyah Awalyah (MDA) serta organisasi ke agamaan se-HST.

Baca: Penjelasan Ustadz Abdul Somad Soal Cawapres Prabowo dan Dukungan Kepada Jokowi pada Pilpres 2019

Saat membagikan pengalamannya di seminatr tersebut, Syekh berusia 21 tahun itu berbicara dalam bahasa Banjar yang fasih. Sebelumnya, dia menawarkan apakah dia berbicara dalam bahasa Indonesia, Arab atau Banjar.

Peserta pun meminta dia menggunakan bahasa daerah. Lahir di Kota Makkah 1997, anak pertama pasangan Yanto dan Mariyati ini mengatakan, sejak kecil dia dididik sang ibu, untuk menyukai Alquran.

Baca: Setelah Abdul Somad Mundur, AHY dan Salim Segaf Mulai Berebut Kursi Cawapres Prabowo Subianto

Tiap hari ibunya mengajaknya mendengarkan murottal Alquran-nya Imam Besar Masjidil Haram, Sudais Shuraim di rumahnya di Makkah.

“Mulai Surah Albaqarah sampai surah An Naas. Tak hanya di rumah, ulun juga menghapal Alquran di Tahfiz (lembaga hapalan Alquran tingkat kota Makkah). Alhamdulillah usia 12 tahun sudah hapal 30 juz,”kata Asal. Modal belajar di rumahnya bersama ibunya, memudahkan di belajar di lembaga tahfiz tersebut.

Asal membeberkan, ayahnya bukanlah seorang ustadz. Demikian pula ibunya, bukan ustadzah. Namun, sejak dia kecil, ibunya suatu hari pernah bilang, suatu saat ibu melihat kamu menjadi tahfiz Alquran. Suatu saat kamu berdiri di Masjidl haram sebagai imam”. Namun, sang ibu meninggal dunia di saat impian ibunya itu menjadi kenyataan. Disaat dia menjadi iman besar di masjid Birrul Walidain menjuarai beberapa lomba baca Alquran.

Baca: Tak Sabar Nunggu Rekrutmen CPNS 2018, Ingat Ada 4 HOAX CPNS 2018 yang Harus Diwaspadai

Asalpun bercerita, sebelum belajar di lembaga tahfiz kota Makkah, dia terlebih dahulu hapal lima juz dibimbing ibunya. Mengapa saya bisa cepat hapal. Karena selain meluruskan niat semata karena Allah, waktu kecil saya juga diberi motivasi sama ibu. Antara lain berupa reward, jika dia bisa memenuhi target sang ibu. Antara lain, setelah hapal dua juz, dia ditarget bisa menghapal lima juz. Jika bisa, Asal dibolehkan mau makan enak apa saja, pasti dibelikan ibunya.

“Kadang diminta menghapal lima juz, saya menghapal sampai tujuh juz, agar jika ibu memberi target berikutnya, saya langsung minta dites. Lalu , bisa langsung nagih makanan enak sama ibu, ”beber Asal sambil tertawa mengenang masa kecilnya itu. Setelah ibunya meninggal dunia, Asal mengaku sekarang menjadi serba mandiri. Mencuci pakaian hingga mengurus keperluannya sendiri.

Meski demikian, kata dia, penghapal Alquran jika niatnya semata karena Allah, tak akan susah hidupnya. Termasuk dalam hal rezeki. “Bahkan Allah senantiasa memuliakan kita, jika kita sering berkumpul dan bergaul dengan orang-orang soleh. Berkunjung ke pesantren-pesantren di daerah-daerah membuat saya bahagia. Apalagi bisa berbagi ilmu dengan anak-anak tahfiz Alquran,”kata Syekh berdarah Kandangan, HSS ini.

Asal mengatakan, sebagai penghapal Alquran yang juga memahami makna kita suci tersebut harus bisa memberikan contoh teladan baik dalam perbuatan maupun perkataan. Selain itu, harus memuliakan orangtua, terutama ibu. “Ibu itu sumber berkah, karena ridho ibu adalah ridho Allah. Orangtua itu senjata tanpa peluru,”katanya.

Agar dimudahkan menghapal Alquran, kata Asal harus meluruskan niat, senantiasa tak lepas dari istigfar kepada Allah, mengamalkan Alquran sebagai petunjuk, meninggalkan maksiat dan bergaul dengan orang-orang saleh. Di antaranya dengan sering pergi ke majelis talim serta pengajian lainnya. Termasuk melaksanakan salat lima waktu tepat waktu.

Seminar yang dipandu Ustadz Nurhidayat dari Semarang didampingi Ustadz Taufik Rahman tersebut juga dihadiri Staf ahli pemerintahan SUpiani, Wakapolres HST Kompol Sarjaini dan Kasdim 1002 Barabai Mayor Inf Pahrijani. Usai menjadi pemateri, Syekh Asal diminta melantunkan ayat suci Alquran, dan memberikan lima rekomendasi yang dia sampaikan dalam Bahasa Arab yang diterjemahkan ustadz Nurhidayat. Kegiatan diakhir dengan pemberian cinderamata dari Pemkab HST. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved