Opini Publik

Gempa Lombok dan Mitigasi Ekonomi Bencana

NUSA Tenggara Barat (NTB) kembali diguncang gempa 7 SR pada Minggu 5/8) sekitar pukul 18.46 WIB.

Gempa Lombok dan Mitigasi Ekonomi Bencana
Tribunnews.com
Petugas melakukan pencarian korban di kawasan Lombok Utara, NTB, Senin (6/8/2018). Gempa berkekuatan 7 SR menghantam Lombok dan menyebabkan 98 orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka, ribuan rumah rusak, dan ribuan warga lainnya mengungsi ke tempat yang aman. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - NUSA Tenggara Barat (NTB) kembali diguncang gempa 7 SR pada Minggu 5/8) sekitar pukul 18.46 WIB. Pusat gempa 18 km Barat Laut Lombok Timur NTB dengan kedalaman 15 km. Selanjutnya terjadi gempa susulan hingga 47 kali. Gempa dirasakan di Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Bali hingga Jawa Timur bagian Timur.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD) Nusa Tenggara Barat (NTB) melaporkan hingga Senin (6/8) pukul 04.00 Wita korban meninggal berjumlah 82 orang. Daerah yang terparah adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur, dan Kota Mataram.

Dampak lain bencana gempa adalah ekonomi. Antara lain ekonomi distribusi bahan pangan terganggu, kesulitan ekonomi bagi korban, dan lainnya. Untuk itu perlu mitigasi ekonomi bencana dan dapat menjadi pembelajaran bagi kerawanan bencana lainnya.

Global Assessment Report (2011) memperkirakan bahwa kerugian akibat bencana rata-rata mencapai 1% dari PDB per tahun. Untuk Indonesia, dampak fiskal bencana secara nasional memang masih tergolong kecil. Hampir 90 persen sumber dana penanggulangan bencana dari pemerintah pusat, padahal pemerintah hanya mampu mengalokasikan dana bencana sekitar Rp 4 triliun per tahun. Implikasi ini akan semakin besar dan kompleks jika dikaji terhadap sektor industri serta perdagangan dan jasa. Bencana tahunan seperti banjir juga menjadi faktor penghambat bagi datangnya investasi.

Risiko Bencana
Bencana tahunan besar dan merata secara nasional adalah bencana hidrometeorologi. BNPB melaporkan bahwa 15 tahun terakhir bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana alam. Banjir tercatat 35% dan angin kencang 11% dari total bencana. Bencana ini perlu diantisipasi sejak dini agar tidak mengancam perekonomian makro hingga mikro nasional.

Bencana hidrometeorologi umumnya berbentuk banjir dan angin kencang di musim pancaroba hingga penghujan. Sebagian wilayah Jawa baru saja diterjang bencana Siklon Tropis. Kemarau identik dengan musim kekeringan dan penghujan identik dengan musim banjir. Penyebabnya diprediksikan karena penyimpangan iklim, gegar hidrologi, dan efek konversi lahan.

Gegar hidrologi analoginya seperti gegar otak, merupakan kondisi dimana pengelola negeri ini tidak mampu memahami dan gagal memfungsikan kaidah-kaidah hidrologi dalam pembangunan (Siswantara, 2011).

Gegar hidrologi menyebabkan terganggunya siklus hidrologi. Manajemen sumberdaya air termarjinalkan oleh ambisi kepentingan ekonomi. Malpraktek pembangunan fisik terjadi tanpa kendali. Konversi lahan terbuka menjadi area terbangun merajalela. Hutan kota disulap menjadi hutan bangunan. Sempadan sungai yang mestinya sebagai kawasan hijau justru padat permukiman. Deforestasi marak terjadi dan mengabaikan prinsip konservasi. Lahan terbuka untuk menyerapkan air hujan menjadi barang langka di perkotaan. Kodatie (2004) menyebutkan akibat fenomena tersebut diprediksikan 25 persen air hujan menjadi aliran mantap dan sisanya terbuang percuma ke laut. Implikasinya terjadi kekeringan saat kemarau dan banjir saat penghujan.

BMKG memperingatkan wilayah yang rawan bahaya cuaca ekstrim antara lain Banten bagian Tengah dan Selatan, Jawa Barat bagian Tengah dan Selatan, Jawa Tengah bagian Tengah dan Selatan, Jabodetabek, Kalimantan Utara bagian Utara dan Timur, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara bagian Utara, dan Maluku bagian Utara dan Tengah.

Efek cuaca ekstrim yang sering terjadi dan membahayakan adalah angin kencang atu puting beliung. Angin kencang terbentuk oleh dua gejala alam, yakni perbedaan suhu mencolok di permukaan bumi dan awan cumulonimbus. Jika ada wilayah sudah berawan dan kelembaban udaranya lebih tinggi, maka di tempat lain yang suhunya panas dan kelembabannya rendah akan berpotensi terjadi angin kencang. Angin kencang juga ditandai cuaca di pagi hari sangat cerah, menjelang siang berawan, dan terbentuk jenis awan cumulonimbus yang hitam, berlapis-lapis, dan menjulang tinggi.

Daerah sekitar terbentuknya awan ini berpeluang terjadi angin kencang.
Angin kencang umumnya terjadi di daerah yang suhu permukaannya berbeda dengan daerah sekitar. Daerah ini misalnya perbatasan perkotaan dan pedesaan atau perbatasan permukiman dan persawahan. Daerah rawan lainnya adalah daerah yang secara historis pernah terjadi angin kencang, dimana peluang terjadi lagi tinggi.

Pengamanan Ekonomi
Sektor perekonomian mesti diamankan dari risiko bencana. Semua pihak baik pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat dituntut peka dan tanggap terhadap dinamika lingkungan. Hasil survei Program Climate Asia (2013) mengungkapkan bahwa informasi perubahan iklim masih kurang di kalangan warga Indonesia. Hanya 19 persen masyarakat yang mendengarkan prakiraan cuaca serta 11 persen yang memiliki persiapan bencana. Kondisi ini menuntut upaya ekstra kaitannya dengan penyebaran informasi dan pelaksanaan edukasi.

Pelaku usaha penting mempertimbangkan informasi dan analisa cuaca serta banjir. Pemilihan lokasi usaha sebaiknya menghindari daerah rawan bencana. Transportasi barang juga hendaknya memperhatikan informasi cuaca, menghindari daerah rawan banjir, dan memberikan waktu toleransi.

Pemerintah mesti lebih ekstra upayanya guna meminimalisasi bencana. Program tahunan sudah biasa dalam menyambut banjir atau angin puting beliung. Berbagai upaya yang dapat dilakukan diantaranya pengerukan sedimen drainase, pembuatan dan pemeliharaan sumur resapan, pemangkasan pohon lebat, dan lainnya.
Pelaku sektor ekonomi memiliki hak sekaligus kewajiban atas pengurangan risiko bencana. Semoga musim pancaroba tahun ini tidak menimbulkan bencana berarti dan kehadiran musim penghujan menjadi berkah bukan musibah. Semua bertanggung jawab atas terwujudnya Indonesia tangguh bencana. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help