Tajuk

Menata Kawasan Makam Datu Kelampayan

Penataan kawasan makam Datu Kelampayan, sebagaimana diharapkan Gubernur Kalsel, merupakan proyek monumental

Menata Kawasan Makam Datu Kelampayan
istimewa/humpro kalsel
Sahbirin lakukan peletakkan batu pertama pembangunan di makam Datu Kelampayan 

BANJARMASINPOST.CO.ID - TENTU masih belum hilang dari ingatan kita, tiga cagar budaya dari 42 buah di Kalimantan Selatan, dicoret Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebab, orisionalitas cagar budaya tersebut sudah berubah dari bentuk aslinya, sehingga tidak lagi masuk kategori cagar budaya.

Ketiga cagar budaya itu, Makam Datuk Abulung di Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar; Makam Datuk Sanggul di Tatakan, Kabupaten Tapin; dan Makam Tumpang Talu Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Inilah yang mesti diperhatikan, bahwa artefak dan situs cagar budaya harus terpelihara keasliannya. Demikian pula pemeliharaan secara berkesinambungan, agar terjaga kelestarian cagar budaya tersebut.

Kini, kawasan makam Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al Banjari atau Datu Kelampayan di Kabupaten Banjar, menjadi perhatian Gubernur Kalimantan Selatan, H Sahbirin Noor, yang akan menata demi kenyamanan bagi peziarah.

Iya, Jumat (3/8/2018) pagi direalisasikan rencana itu yaitu peletakan batu pertama Penataan Kawasan Makam Datu Kelampayan, disaksikan alim ulama, perwakilan zuriat dan pengurus yayasan (BPost, 6/8/2018)
Penataan kawasann makam Datu Kelampayan, dipandang tepat. Sebab, Kalsel ingin menjual panorama destinasi religi (objek wisata keagamaan) sebagai daya tarik kunjungan turis domestik maupun mancanegara, di daerah yang berjuluk Serambi Makkah-nya Kalsel itu.

Perhatian pemerintah provinsi, didukung warga, hanya akan bergaung jika kawasan makam sebagai andalan wisata ini, mendapat sentuhan perubahan atau perbaikan pengelolaan serta kelestarikan budaya lokal yang mengitarinya.

Penataan kawasan makam Datu Kelampayan, sebagaimana diharapkan Gubernur Kalsel, merupakan proyek monumental yang akan menjadi kebanggaan masyarakat Kalsel. Dan, bisa menjadi satu objek wisata religi terbaik di dunia.

Dilihat dari rancangannya, kawasan makam Datu Kelampayan terlihat begitu megah dan indah. Kawasan ini akan dilengkapi tempat bersantai, area bermain bagi anak-anak, selasar yang nyaman dan bersih, dilengkapi juga air mancur.

Penataan kawasan tersebut, juga sebagai upaya pengenalan sejarah kepada generasi muda. Sejarah, senantiasa mengingatkan kita kepada tokoh-tokoh terkemuka, yang menjadi panutan rakyat di zamannya.

Dalam masyarakat Banjar, kita temukan sosok ulama besar yang mengagumkan, yakni Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdurrahman Al Banjari. Tuan Guru (TG: ulama besar) ini menjadi simbol perubahan, teladan dan panutan dalam berkhidmat di bidang ilmu pengetahuan keislaman.

Syekh menampilkan ketekunan dalam menimba ilmu keislaman di masyarakatnya, juga mendapat dukungan dari kesultanan di Tanah Banjar, kala itu. Datu Kelampayan dilahirkan di Lok Gabang, 17 Maret 1710 M - meninggal di Dalam Pagar, 3 Oktober 1812 M pada umur 102 tahun atau 15 Shafar 1122 H - 6 Syawal 1227 H.

Syekh senantiasa mengikuti perkembangan zaman, juga menyadari kesulitan yang dihadapi masyarakatnya. Terhadap pendidikan, Tuan Guru ini, brilian dalam semua cabang ilmu dan sains tradisi. Banyak menulis buku yang membahas masalah agama, terbukti satu dari sekian karya momumentalnya, kitab Sabilal Muhtadin. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved