Berita Tanahlaut

Kemarau, Petani Sayur Mayur Terpaksa Sedot Air Sungai Tabanio

Musim kemarau ini, petani padi di wilayah Kabupaten Tanahlaut sudah panen padi. Meski hasilnya tidak maksimal karena terserang hama tungro.

Kemarau, Petani Sayur Mayur Terpaksa Sedot Air Sungai Tabanio
banjarmasin post group/ mukhtar wahid
Kemarau, air Sungai Tabanio berwarna keruh karena mengalami pendangkalan akibat disedot petani sayur mayur di Kelurahan Pabahanan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Musim kemarau ini, petani padi di wilayah Kabupaten Tanahlaut sudah panen padi. Meski hasilnya tidak maksimal karena terserang hama tungro, mereka masih bersyukur.

Pasalnya, lahan bekas panen padi diolah kembali untuk menanam sayur-sayuran seperti jagung manis dan lombok serta terong

Sidik, petani di Kelurahan Pabahanan mengaku sedang menggarap lahannya setelah panen padi benih lokal, belum lama ini.

Baca: Ini Harta Kekayaan Jokowi-Prabowo Saat Capres di Pilpres 2019, Punya Saham di 26 Perusahaan Lho

Baca: 7.872.3 hektare Lahan di Sungaipinang Akan Bersertifikat

Menurutnya, kalau menanam sayur mayur saat tiba musim penghujan justru tanaman sayuran mengalami kerusakan dan gagal panen.

"Saya bersyukur kemarau. Lahan saya bisa ditanami jagung manis," katanya.

Sayuran asal Pelaihari dan sekitarnya dipasarkan di wilayah Kota Banjarmasin hingga ke Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah.

Baca: Hari Ini Tanggal Cantik, Simak Ramalan Zodiak Rabu 08 Agustus 2018

Sumber air untuk menyiram sayuran diakui Sidik mengambil di sungai Tabanio dengan cara menyedot dengan mesin pompa air.

Petani di Desa Telaga pun menanam palawija di dekat embung. Itu setelah mereka panen padi benih unggul, belum lama ini.

Mahyudi, Ketua kelompok tani Jakasuma mengaku meminjam tiga unit mesin pompa air di markas Kodim 1009 Pelaihari untuk mengairi tanaman sayur anggota kelompok taninya.

Baca: Anak Penjual Pentol Asal Pelaihari Berhasil Raih Rangking 5 Seleksi Taruna Akpol di Semarang

Menurut Mahyudi, musim kemarau ini menurunkan produktifitas pertanian jenis padi unggul hingga 25 persen.

"Musim kemarau ini jelas berdampak bagi petani seperti kami. Produksi mengalami penurunan 25 persen. Kami terpaksa meminjam pompa air untuk menyiram tanaman sayuran," katanya.

(banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)

Penulis: Mukhtar Wahid
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help