Selain Haji, Ini Ibadah Khusus di Bulan Dzulhijjah yang Pahalanya Setara dengan Mati Syahid

Sebentar lagi umat Islam akan memasuki salah satu bulan mulia dalam penanggalan Hijriyah, yakni bulan Dzulhijjah.

Selain Haji, Ini Ibadah Khusus di Bulan Dzulhijjah yang Pahalanya Setara dengan Mati Syahid
bangkapos.com
Bulan Dzulhijjah

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sebentar lagi umat Islam akan memasuki salah satu bulan mulia dalam penanggalan Hijriyah, yakni bulan Dzulhijjah.

Bulan Zulhijjah ini tergolong istimewa karena selain merupakan waktunya jemaah haji melaksanakan ibadah haji juga ada ibadah lainnya yang tak kalah spesialnya.

Dikutip dari situs resmi Nahdlatul Ulama, NU Online, dalam sebuah artikel diterbitkan pada 31 Agustus 2016, di bulan Dzulhijjah ini juga ada puasa sunah yang memiliki keutamaan.

Dzulhijjah disebut sebagai salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT.
Di dalamnya terdapat kewajiban haji bagi yang mampu menunaikannya.
Sementara orang yang tidak mampu dianjurkan memperbanyak amalan sunah lainnya seperti sedekah, shalat dan puasa.

Karenanya, kesempatan beribadah di bulan Zulhijjah ini tidak hanya diberikan kepada jemaah haji.

Baca: Jumlah Kekayaan Jokowi-Prabowo Capai Puluhan Miliar Hingga 1 Triliun Lebih Jelang Pilpres 2019

Siapapun bisa mendapat kesempatan beramal meskipun dalam bentuk yang berbeda-beda.

Anjuran memperbanyak amal saleh itu termaktub dalam beberapa hadits.
Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi berikut ini:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر

Artinya, “Rasulullah SAW berkata: Tiada hari lain yang disukai Allah SWT untuk beribadah seperti sepuluh hari ini,” (HR At-Tirmidzi).

Baca: Kirim Utusan ke Rumah Megawati, Jokowi Mulai Persiapkan Pendaftaran Capres di Pilpres 2019

Hadits di atas menunjukkan beramal apapun di sepuluh hari pertama Dzulhijjah sangat dianjurkan.
Namun kebanyakan ulama menggunakan hadits di atas sebagai dalil anjuran puasa sembilan hari pada awal Dzulhijjah.
Hal ini terlihat dalam pembuatan judul bab hadits tersebut.
Ibnu Majah memberi judul bab hadis di atas dengan “shiyamul ‘asyr (puasa sepuluh hari)”.

Halaman
12
Penulis: Yayu Fathilal
Editor: Restudia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help