Berita Hulu Sungai Tengah

Kipas Anyaman Bambu Asal Barabai Ini Tetap Eksis di Tengah Serbuan Piranti Elektronik

Ketika cuaca panas di dalam rumah atau ruangan lain yang tak dilengkapi pendingin ruangan, tentu akan menyalakan kipas angin

Kipas Anyaman Bambu Asal Barabai Ini Tetap Eksis di Tengah Serbuan Piranti Elektronik
banjarmasin post group/ hanani
Kipas anyaman bambu, yang masih digunakan sebagian warga HST yang tinggal di perdesaan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BARABAI - Ketika cuaca panas di dalam rumah atau ruangan lain yang tak dilengkapi pendingin ruangan, tentu yang dilakukan orang adalah menyalakan kipas angin, atau mengipas-ngipaskan sesuatu untuk mendapatkan embusan angin.

Salah satu alat untuk mencari udara yang bergerak tersebut, adalah kipas manual.

Di pasar Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, masih banyak dijual kipas tangan, yaitu kipas yang terbuat dari anyamman bambu dengan tangkai rotan yang dijahit dengan tapi rafia.

Baca: Valentino Rossi Pertanyakan Keinginan Yamaha untuk Menang di MotoGP 2018

Kipas ini dijual dengan harga Rp 3.000 per lembar. Jika membeli dalam jumlah banyak, yaitu di atas 10 lembar, harganya menjadi Rp 2.500 per satuan.

Menurut pedagang barang hasil kerajinan tangan yang juga menjual aneka produk berbahan bambu dan rotan di Pasar Hanyar Barabai, Fatiyah (50) , kipas bambu masih dibutuhkan sebagian masyarakat, khususnya warga di perdesaan.

"Biasanya digunakan sebagai kipas saat cuaca panas, di kegiatan pengajian di langgar atau musala yang tidak ada kipas anginnya," ungkap Fatiyah kepadabanjarmasinpost.co.id, Sabtu (11/8/2018).

Baca: Jokowi Disebut Kena Jebakan Batman soal Cawapres, Wasekjen PAN : Indonesia Perlu Ekonom Bukan Ulama

Selain digunakan sebagai kipas untuk mengipasi tubuh yang kepanasan, kipas bambu juga biasa digunakan untuk membakar sate atau ikan bakar oleh warga yang tinggal di kota, atau pemilik usaha warung makan.

"Alhamdulillah masih ada yang menggunakan kipas anyaman bambu ini, di tengah majunya teknologi barang elektonik yang lebih memberi kemudahan dan kenyamanan dalam menciptakan kondisi dingin dalam ruangan,"ungkapnya.

Dijelaskan, kebanyakan kipas anyaman bambu yang dijual di pasar Barabai, adalah buatan warga Hulu Sungai Utara.

Baca: Ambruk Saat Manggung, Via Vallen Justru Tuai Simpati Netizen

Fatiyah sendiri membeli kipas tersebut dari perajin HSU. Selain menjual produk kipas tradisional tersebut, dia juga menjual tikar purun, tikar lampit, bakul purun, bakul bambu, nyiru, tangguk serta peralatan tradisional lainnya, yang masih diproduksi perajin HST maupun dari daerah lain di Banua Anam.

Fatiyah sendiri mengaku tak tahu sampai kapan produksi kerajinan tradisional tersebut bisa bertahan di tengah gempuran produk dari pulau Jawa yang berbahan plastik, dan nilon.

"Selama ini penjualan masih lumayan rame dan pembelinya juga masih ada, walaupun tak seramai zaman bahari, yang masyarakatnya hidup lebih tradisional,"ungkap perempuan yang berjualan sudah lebih 10 tahun tersebut. (banjarmasinpost.co.id/hanani)

Penulis: Hanani
Editor: Rendy Nicko
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved