Mereka Bicara

Penggabungan Sekolah: Solusi atau Masalah?

Pasalnya, penggabungan sekolah perlu pengkajian yang serius karena bisa mengakibatkan beberapa implikasi yang bisa menjadi masalah

Penggabungan Sekolah: Solusi atau Masalah?
Hanani
Siswa SMPN 2 Satap Hinas Kiri, Batangalai Timur, HST makan siang bersama di teras sekolah, saat mengikuti UNBK di Lab Komputer SMAN 9 BAT, April 2018 lalu. 

Persaingan antarsekolah menarik minat masyarakat diharapkan menghasilkan kompetesi yang positif. Tiap sekolah bisa terus termotivasi untuk selalu berinovasi demi meningkatkan mutu layanan pendidikan. Dalam berinovasi sekolah sangat memerlukan pemerintah untuk hadir demi pencapaian tujuan bersama dalam memberikan layanan pendidikan bagi masyarakat. Masyarakat berhak memilih untuk mendapatkan mutu layanan pendidikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Berhikmah Pada Kisah Guru
Seorang guru pernah menceritakan kisah tentang seorang pedagang yang memiliki dua orang anak. Pedagang tersebut mendidik dan membesarkan kedua anaknya untuk menjadi pedagang seperti ayahnya. Hingga menginjak dewasa kedua anak tersebut di beri modal dan dibuatkan toko yang berbeda dan berjauhan.

Seiring waktu berjalan kedua anak tersebut berhasil menjalankan tokonya masing-masing. Hingga datang masa paceklik dan datang pesaing toko yang lain yang membuat toko kedua anak tersebut sepi pembeli bahkan toko sang adik tidak bisa menjual apapun karena tidak ada lagi pelanggan yang datang ke tokonya.

Berdasarkan perhitungan dagang dengan memperhitungkan untung rugi, biaya operasional dan gaji karyawan, sang ayah sempat berpikir untuk menutup toko sang adik dan menyuruhnya untuk berdagang ikut dengan toko kakaknya. Namun sebagai guru bagi anak-anaknya, sang ayah menilai itu bukan solusi cerdas dan tidak mendidik anak-anaknya dalam mencari penyelesaian menghadapi tantangan dalam berdagang.

Sang ayah mengajak kedua anaknya untuk mencari apa yang menyebabkan toko mereka sepi pembeli. Sang ayah melihat potensi pembeli toko kedua anaknya sebenarnya banyak, tetapi para pembeli lebih suka berbelanja ke toko pesaing anaknya. Kemudian sang ayah bersama kedua anaknya menyelidiki apa nilai lebih dari toko pesaing kedua anaknya yang bisa membuat para pelanggan lebih berminat berbelanja dibandingkan di toko anaknya.

Mereka menemukan ada dua nilai lebih dari toko pesaing yaitu jam buka toko pesaing dari jam 08.00 sampai jam 21.00 lebih lama dibandingkan toko anaknya yang hanya buka dari 09.00 sampai jam 17.00. Nilai tambah kedua, barang yang dijual oleh toko pesaing sudah diberi label harga, sehingga pembeli tinggal mengambil dan membawa ke kasir untuk membayar tanpa ada tawar-menawar, sedangkan di toko anaknya tidak berlabel harga dan bisa ditawar.

Dari hasil temuan, sang ayah mengajak kedua anaknya untuk mengadopsi dua nilai lebih tersebut dan menambah satu inovasi lagi dengan memasang AC di ruangan toko agar pembeli merasa sejuk dalam berbelanja sebagai nilai tambah mutu pelayanan pelanggan. Setelah melakukan perubahan pada toko kedua anaknya, pelanggan mulai berdatangan dan toko mereka bisa menarik minat pembeli kembali.

Mengambil hikmah dari kisah di atas, sebaiknya para pengambil kebijakan melakukan pengkajian yang mendalam dan melakukan pendampingan yang intensif kepada sekolah yang akan terkena penggabungan dalam meningkatkan jumlah murid sebelum melaksanakan SK Bupati mengenai penggabungan sekolah.

Sekolah yang belum bisa menarik minat murid sesuai ketentuan sangat memerlukan pendampingan dalam mencari solusi dibandingkan hanya diberi ultimatum untuk berkembang sendiri. Peran ayah dari para pengambil kebijakan sangat dibutuhkan untuk hadir bersama sekolah dalam berbenah demi membangkitkan sekolah dan tetap hidup dalam menghadapi masa paceklik. (*)

Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help