B Focus Urban Life

Dianggap Mengancam Lahan Pertanian, Begini Tanggapan Ketua DPD REI Kalsel

Pembangunan permukiman yang dianggap mengancam lahan pertanian di Kabupaten Banjar membuat Ketua DPD REI Kalsel

Dianggap Mengancam Lahan Pertanian, Begini Tanggapan Ketua DPD REI Kalsel
BPost Cetak
bpost

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Pembangunan permukiman yang dianggap mengancam lahan pertanian di Kabupaten Banjar membuat Ketua DPD REI Kalsel, Royzani Sjachril angkat bicara.

“Saya menganggapnya bukan ancaman seolah-olah mematikan lahan pertanian, kami tidak berwenang untuk itu. Tapi kami menyesuaikan rencana tata ruang kabupaten yang sudah diprogramkan oleh pemerintah daerah,” katanya.

Baca: Keindahan Auditorium ULM Dipotret Pakai Drone, Suasana Simpang Empat Banjarbaru Jadi Beda

Dijelaskannya, dari tata ruang kabupaten setempat itulah diperbolehkan untuk permukiman dan pangsa pasarnya ada, maka pengembang melihat peluang tersebut.

Menurutnya, tentunya pemerintah daerah setempat harusnya sudah menyadari dan mengantisipasi lonjakan pertumbuhan penduduk year on year di daerahnya, dimana tidak dapat dihindari kemajuan pembangunan dan fasilitas prasarana yang ada di masyarakat.

Baca: Hari Kemerdekaan Indonesia, Negara Ini Juga Rayakan Kemerdekaan Tanggal 17 Agustus Nanti

Contohnya kemajuan kota Banjarmasin yang begitu pesat dan menyediakan berbagai fasilitas.

Terbaru Trans Studio mini yang tentunya menarik minat masyarakat di luar Kota Banjarmasin untuk mencari tempat tinggal dekat Kota Banjarmasin.

Dengan demikian, daerah-daerah yang sebagai penyangga Kota Banjarmasin akan semakin diminati untuk huniannya, dikarenakan Kota Banjarmasin terbatas lahannya.

Baca: Penyebab Mikha Tambayong Tidak Makan Nasi Lagi Sejak Enam Tahun Lalu

Jadi yang dulunya Kabuapten Banjar di Jalan A Yani Km 8 sampai Gambut, penyedia lahan pertanian, sekarang menjadi banyak permukiman.

“Karena kebutuhan masyarakat itu sendiri yang pemerintah daerahnya harusnya segera antisipasi. Harus memikirkan lonjakan penduduk bukan hanya kebutuhan lahan pertanian, pemda juga harus memberikan insentif kepada petani agar terus menggeluti bidangnya supaya bertahan lama,” ujarnya.

Ada upaya dari pemerintah bagaimana agar petani bisa menjadi petani modern.

Itu pun menurut Roy kalau memang pertanian mau dipertahankan di sekitar kemajuan permukiman, kalau tidak demikian, maka cari daerah lainnya yang dibuka untuk pertanian.

Petani juga menginginkan kesejahteraan, mereka juga ingin umrah, beli rumah dan mendapatkan fasilitas yang maju.

Oleh karena itu banyak dari mereka menjual tanahnya untuk kesejahteraan mereka dan anak cucunya.

“Menjadi catatan adalah perumahan bukan ancaman, kami menyediakan kebutuhan masyarakat yang memang butuh tempat tinggal yang dekat dengan perkotaan agar keluarganya maju dan sejahtera,” tegas Roy.

Editor: Edinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved