Berita Banjarbaru

Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel Sulit Larang Nelayan Gunakan Lampara

Meski dilarang Nelayan di Kalsel hingga kini sebagian besar masih menggunakan alat tangkap lampara

Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel Sulit Larang Nelayan Gunakan Lampara
banjarmasinpost.co.id/herliansyah
Ilustrasi- Suherman salah seorang nelayan sedang memperbaiki alat tangkap Lampara Dasar yang rusak 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Meski dilarang, Nelayan di Kalsel hingga kini  sebagian besar masih menggunakan alat tangkap lampara. Alat tangkap ini, bagi nelayan merupakan alat tangkap paling ideal bagi nelayan agar mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak dibanding alat tangkap lain.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Selatan, Winarno tak memungkiri penggunaan alat tangkap lampara oleh nelayan di provinsi ini.

"Ya kucing-kucingan mereka, kita tidak bisa melarang, kami dari dinas ya terpaksa tutup mata," ujarnya, Senin (13/08/2018).

Menurut Win hingga kini kepastian larangan penggunaan lampara yang merupakan alat tangkap ditarik tersebut masih gantung. Hingga kini larangan penggunaan lampara masih tidak merata se Indonesia. Hanya provinsi Jawa Tengah yang diperbolehkan memakai alat tangkap lampara.

Baca: Ini Dia Kapolda Kalsel Baru Irjen Yazid Fanani, Dikenal Tegas Karena Lama Bertugas di Serse

Baca: Nissa Sabyan Tega Beri Hukuman Kamal Berkali-Kali Ketika di Bandara, Ternyata Karena Ini

"Sesuai Permen 71/2016 lampara jelas dilarang. Pengecualian untuk nelayan Jateng, nah itu jadi pertanyaan kita kenapa tidak merata se Indonesia aturan itu," ujarnya.

Saat ini ujarnya mereka masih mensosialisasikan ke nelayan tentang larangan penggunaan lampara.  Namun di sisi lain tak ada sanksi atas penggunaan lampara.

" Kami tidak menyuruh menggunakan lampara dan juga tidak melarang secara tegas, karena tuntutan nelayan se Indonesia pasti sama tentang alat tangkap ini," jelasnya.

Memang menurutnya jika hanya nelayan Jateng yang boleh menggunakan lampara dan trawl maka Kalsel adalah wilayah yang dirugikan. Pasalnya nelayan yang paling banyak menyerbu laut Kalsel adalah nelayan asal Jateng.

Baca: Nissa Sabyan Pernah Dibayar Ucapan Terima Kasih, Kini Tarif Sabyan Gambus Capai Puluhan Juta

Baca: NEWSVIDEO : Polres Banjarbaru Gulung Sindikat Pencurian Baterai BTS

Akibatnya jumlah produksi penangkapan ikan di Kalsel sulit meningkat. Berdasarkan data DKP Kalsel, di 2015 produksi penangkapan ikan di Kalsel yaitu 241.291 ton, 2016 247.732,20 ton sementara di 2017 ada 253.899 ton.

"Mereka datang tanpa ijin, tidak meminta rekomendasi ke DKP Kalsel, dan tidak mengurus perijinan menangkap di laut Kalsel," ujarnya.

Setelah itu nelayan Jateng juga membawa hasil tangkapan untuk dijual di Jateng. Akibatnya Kalsel terus kecolongan produksi penangkapan. "Harusnya duitnya saja yang dibawa ke Jawa, tapi ini ikannya yang dibawa pulang," ujarnya. (banjarmasinpost.co.id /milna sari)

Penulis: Milna Sari
Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help