Kriminalitas Banjarmasin

Rentan Meledak, Begini Cara Pemko Mengatasi Penyaluran Gas di TPA Basirih

Ibnu Sina mengklaim, pengelolaan sampah saat ini dengan sistem landfill atau sistem pumpuk sampah kemudian ditimbun dengan tanah akan berdampak

Rentan Meledak, Begini Cara Pemko Mengatasi Penyaluran Gas di TPA Basirih
apunk
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Basirih, Banjarmasin Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Wali Kota Banjarmasin Ibnu Sina bersama UN Habitat (United Nation Human Settlements Programme) berencana untuk memperbaharui teknologi pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Basirih, Banjarmasin Selatan.

Ibnu Sina mengklaim, pengelolaan sampah saat ini dengan sistem landfill atau sistem pumpuk sampah kemudian ditimbun dengan tanah akan berdampak pada tidak meratanya gas metan keluar di sana.

Apalagi, gas yang dihasilkan dialirkan untuk sumber energi memasak kepada 50 kepala keluarga di Kelurahan Basirih

“Karena tidak merata rentan sekali meledak seperi di negara Ethiopia, Sri Lanka, dan Indonesia di Bantar Gebang,” ujarnya usai rapat bersama dengan UN Habitat di ruang Rapat Berintgrasi Balai Kota Banjarmasin, kemarin siang.

Baca: Jadwal Lengkap Pertandingan Sepakbola Asian Games 2018, Laga Timnas U-23 Indonesia Live SCTV

Menurutnya, dengan spesipikasi Banjarmasin sebagai daerah rawa cocok menggunakan metode dari tim Fokouka University Japan. Apalagi, Banjarmasin teknologi yang ditawarkan sederhana. Mulai dari menggunakan bambu dan ban bekas.

Baca: Jadwal Siaran Langsung (Live) SCTV Timnas U-23 Indonesia vs Palestina di Sepakbola Asian Games 2018

“Cara yang ditawakan mereka membuat gas metan yang dihasilkan sampah keluar dan membuat pembusukan sampah cepat,” katanya.

Selain itu, kerjasama antara UN Habitat dan Banjarmasin bukan kali pertama. Penataan kawasan Kelayan Dalam juga melibatkan UN Habitat.

Senior Human Settlements Officer UN Habitat, Bruno Dercon, mengatakan, bentuk kerjasama antara Banjarmasin dengan UN Habitat hanya berupa ilmu. Pihaknya, kali ini hanya memberikan pengetahuan bagaimana cara mengolah TPA Basirih yang seharusnya dapat bertahan lama. Menurut Brono, dengan metode menggunakan alat sederhana seperti pipa beton, bambu, dan bekas, dapat membuat pengelolaan sampah lebih baik. Sehingga TPA dapat bertahan lebih lama dari rencana sebelumnya.

Baca: Prediksi Skor dan Susunan Pemain Timnas U-23 Indonesia vs Palestina di Asian Games 2018 Live SCTV

“TPA akan lebih lama. Aritnya mengurangi beban Banjarmaslin untuk membuat TPA baru. Banjarmasin juga bukan kota besar seperti di Pulau Jawa dan membutuhkan tekologi yang tidak terlalu mahal,” jelasnya.

Banjarmasin merupakan daerah pertama yang ditawari metode ini. Menurutnya, UN Habitat merupakan lembaga PBB untuk perbaikan kondisi perumahan, dan perkotaan, serta urbanisasi dunia. Apalagi, UN Habitat juga sudah bekerjasama dengan pemerintah Indonesia melaui Kementerian PUPR.

Di Banjarmasin, juga bukan hal baru UN Habitat bekerjasama dengan Pemko Banjarmasin. Sebab, kerjasama dengan UN Habitat sudah dimulai sejak tahun 2009 silam. (Banjarmasinpost.co.id/Eka Pertiwi)

Penulis: Eka Pertiwi
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved